Sunday, November 11, 2007

Bisnis dan Properti



Selama ini saya hanya main di properti kecil2. Karena polanya hanya gaji - properti. Gaji kecil ya dapetnya properti kecil.

Setelah coba buka toko tahun lalu, beberapa bulan terakhir saya coba disiplin utk mencatatkan penghasilan toko ke bank. Untuk keperluan itu, 1-2 kali seminggu saya antri ke bank utk setor. Dari diskusi dg beberapa teman, untuk memperoleh kredit dari bank dg status non karyawan (persiapan full TDA), bank akan melihat mutasi kredit di rekening.

Nah bulan agustus lalu saya iseng tanya2 ruko di jalan alternatif cibubur cilengsi. Dari ngobrol dg brokernya, kok nyambung dengan yg saya mau. Dan ternyata apa yg disampaikan oleh pak James saat workshop properti adalah hal yg biasa dilakukan disini. Jika proses ini berjalan baik, saya akan memperoleh ruko + cash senilai 1,25 m nyaris tanpa modal. Ya udah saya lanjutkan prosesnya... nothing to loose kok... ;)

Proses pencarian kredit dimulai.

Di bank A, ternyata mereka meminta pembukuan toko. Karena tidak punya laporan neraca dan rugi laba, saya serahkan saja semua nota pembelian dan penjualan utk dibuatkan laporan keuangannya. Selain itu bank ini juga melakukan appraisal terhadap ruko yg akan dibeli.

Dan... beberapa minggu kemudian keluar kabar bahwa kredit saya diapprove tapi dengan nilai agak jauh dibawah yg saya inginkan.

Bank A ini memang terkenal dg nilai appraisal yg sangat rendah. Awal tahun ini saya pernah juga memakai bank ini utk membeli kios dg agunan salah satu properti yg saya miliki, dan memang saat itu nilai appraisalnya juga rendah sekali, cuma karena butuh uang, waktu mendesak dan nilai kreditnya masih mencukupi, ya saya ambil.

Tapi kali ini saya putuskan utk menolak kredit bank tsb. Dan saya minta kembali semua dokumen saya. Satu hal yg menjengkelkan adalah dokumen saya hanya dikembalikan sebagian kecil saja. Nyaris semua nota pembelian dan penjualan yg saya miliki hilang dalam proses di bank ini. Untung buku catatan utamanya masih ada.

Kemudian dari pihak broker mengajukan proses kredit ke bank B. Bank ini actionnya cepat, langsung appraisal dan ga lama kemudian sdh keluar SPKnya. Nilai yg keluar juga ternyata cukup besar. Tapi masih dua ratus juta dibawah nilai hitung2an awal.

Dgn modal SPK yg ada, broker mencoba lagi ke bank C. Bank ini nampaknya cukup hati2. Selain meminta laporan keuangan, mereka juga melakukan survey langsung ke toko yg saya miliki. Sekitar 2-3 minggu mereka sudah kasih kabar. Dan lagi2 nilainya tidak berbeda jauh dengan hasil bank B.

Akhirnya setelah pencarian kredit yg cukup panjang dan cukup membuat H2C, akhirnya saya putuskan utk tidak melanjutkan proses ini. Memang dengan nilai kredit yg disetujui oleh bank B dan C saya akan dapat rukonya tapi uang cashnya tidak sebesar yg diharapkan. Padahal uang cash ini saya butuhkan utk menciptakan bisnis yg akan membayar cicilan ruko.

Walau tidak memperoleh target utama, dan sedikit kecewa, tapi saya belajar banyak hal dalam proses ini, selain network dg pihak bank yg mungkin satu saat nanti saya perlukan kembali.

Rasanya ini hanya jadi test case. Mencoba seberapa bankable kemampuan finansial yg didapat dari bisnis yg dijalankan. Kedepan, roadmapnya sudah jelas, bisnis akan dipakai utk membiayai properti dan properti akan digunakan utk meleverage bisnis.

Saling sinergi.

No comments: