Friday, February 20, 2009

Bisnis dan makan-makan

Karena kurir yg biasa antar paket berhenti kerja, kemarin saya terpaksa antar paket EMS sendiri, dan seperti biasa, Poppy ikutan.

Dari pengalaman, kantor pos yg beres urusannya utk paket EMS cuma di Ciracas, Lippo Cikarang dan di jl. Pemuda. Kantor pos yg lain yg pernah saya coba kalo ga timbangannya ga bener ya orangnya yg ngitungnya ga bener. Dan kemarin yg di Ciracas komputernya katanya lagi problem. Akhirnya kita ke Jl. Pemuda, dekat pulogadung. Sekalian cari2 info bagaimana kerjasama menjadi agen kantor pos.

Pulang dari sana kita makan siang di rumah makan ayam goreng haji Halim di rawamangun. Lokasinya melewati terminal rawamangun dan rawamangun square (ex artomoro), sebelum lampu merah, sebelah kiri jalan.

Saya pertama kali makan disini sekitar th 93-an. Dulu saya biasa ditraktir disini oleh salesman kalo abis pulang demo produk di artomoro dept store.

Disini ayam bakar dan ayam gorengnya mantap banget. Apalagi sambal hitamnya. Mungkin campurannya kecap, terasi, cabe dan bawang. Belum pernah nemuin yg begini di tempat lain.
Satu porsi ayam cuma 12.000, udah sama lalapan.

Satu lagi yg enak disini adalah gudeg n telor buletnya. Gudegnya ga terlalu manis. Telornya kenyal di bagian putihnya, mungkin krn lama direbus.

Biasanya jam makan siang disana ramai sekali, tapi ga tau kenapa kemarin sepi.


BOGOR

Kalo abis antar barang ke toko di BTM biasanya suka jadi lapar, maklum gotong2 barang berat. Sebetulnya di lantai atas BTM ada food court. Enak juga sih makan di food courtnya, pemandangannya lumayan bagus, langsung ke gunung salak. Cuma kadang agak susah cari meja kosong yg pemandangannya bagus krn banyak anak abg yg suka nongkrong disana.

Di food court ini ada yg jual sop iga sapi enak banget, kuahnya kayak kuah konro.

Kemarin saya nemuin tempat makan yg lumayan, enak n murah. Lokasinya di gang selot, masih di Jl. Juanda, samping sekolahan. Cuma kalo makan disini jgn pas jam istirahat anak sekolah... penuh.

Siomaynya enak, cuma 5000. Mie ayam juga enak, 5000. Bubur ayam semangkok gede, cuma 4000. Bakso agak mahal, 8000, tapi enak juga. Dan Es Dogernya... hmm... 3000 aja.

Makan berdua sama Poppy 20.000 masih ada kembaliannya, hehe...


CIKARANG

Tempat makan favorit saya disini ada di seberang pertamina cikarang, setelah pangkalan bus Rosalia. Ga tau namanya apa soalnya ga pakai papan nama. Model makannya ambil sendiri.

Jadi inget jaman kuliah dulu, di dekat kampus ada warung makan model gini, kadang ada teman yg suka nyelipin lauk di bawah nasi... ;)

Disini saya suka ikan tenggiri gorengnya, potongannya besar (jadi ga bisa diselipin di bawah nasi) dan enak bgt. Trus satu lagi.. tehnya juga enak. Kemarin di sempatin beli tehnya utk dimasak di rumah, tapi kok rasanya ga bisa seperti disana, mungkin cara masaknya pengaruh juga.

Ada lagi warung sunda yg sop sapi dan pepes ikan masnya luar biasa. Lokasinya di dekat perempatan lippo cikarang - ejip.

Kalo udah sampai lippo cikarang, jgn lupa beli es doger yg mangkal di dekat waterboom, 3000 perak tapi mantap bgt.

Friday, February 6, 2009

Ternyata Jatuh Bangun

Dulu waktu masih jadi karyawan, penghasilan saya kira2 seperti grafik di bawah ini. Tenang.. tiap tahun pasti naik, cuma naiknya ga tentu. Kadang naik sedikit, kadang naik sedikit lebih besar, kadang naik besar tapi jarang2, tapi ga pernah turun.


Lalu karena ga banyak kerjaan jadi sering melamun (baca : berpikir) bagaimana caranya supaya penghasilan bisa seperti ini, eksponensial, melejit keatas, kalo bisa tanpa harus kerja keras.

Setelah coba2 bisnis hampir jalan 3 tahun, ternyata hasilnya jatuh bangun. Kadang naik luar biasa, tapi kadang juga turun luar biasa. Kadang omset 0, tapi kadang omset sehari bisa nyamain omset sebulan. Ternyata utk jadi entrepreneur perlu daya tahan yg lebih kuat. Tidak semua orang kuat naik jetcoaster.

Grafik diatas adalah dari dagang jilbab, gamis dan baju2 muslim. Kalo diperhatikan, titik2 puncak terjadi pada bulan ramadhan. Tapi setelah puncak biasanya ketemu lembah. Dan itu yg terjadi pada 1-2 bulan setelahnya. Alhamdulillah walaupun naik turun tapi moving average nya masih naik.

Grafik terakhir saya ambil dari dagang forex. Ternyata hasilnya mirip2, jatuh bangun juga.

Ternyata cari yg eksponensial susah ya.

Thursday, December 11, 2008

IHSG mengikuti Dow Jones?



Saya subscribe email buletin dari Marketwatch. Sering terjadi, kalau semalam diberitakan indeks dow jones turun, maka besoknya IHSG ikut turun, dan sebaliknya.

Saya ambil data 3 bulan ke belakang dari yahoo finance.

Coba kita bandingkan utk tgl2 tertentu pada grafik diatas, ada 11 tanggal patokan yg bergaris : 22 sept, 29 sept, 13 okt s/d 9 des.

Ada 9 tanggal yg sama, dimana jika DJI turun, IHSG ikut turun. Jika DJI naik, IHSG ikut naik.

Hanya ada 2 tgl yg berbeda yaitu 24 nov, dimana DJI naik tapi IHSG turun. Perbedaan yg lain terjadi di tgl 9 des, tapi saya rasa ini terjadi karena kita libur idul adha.

Satu lagi yg saya bandingkan, trend antar tgl patokan, ternyata juga mirip.

Kemiripannya cukup besar, lumayan bisa buat bantu prediksi transaksi besok... ;)

Ruzika Moslem Outlet 5 - Pasar Ciracas











Saturday, December 6, 2008

Studi Kasus : Buka Toko Busana Muslim

Pernah beberapa kali ada email yg masuk menanyakan hitung2an utk buka toko busana muslim. Pas kebetulan ini ada hitung2an yg real utk cabang Ruzika Moslem Outlet di Pasar Ciracas, saya sharing aja.



Pasar Ciracas adalah pasar tradisional yg diremajakan. Kondisi fisik kios baru selesai dan ditempati kembali setelah lebaran 2008. Pembangunan masih berlangsung sampai saat ini, terutama utk area parkir.

Sebetulnya saya lebih suka membeli kios daripada menyewa. Tapi karena kios di posisi yg bagus sdh terisi semua dan yg dijual harganya sdh cukup tinggi, akhirnya diputuskan utk menyewa saja. Itu pun dapatnya tidak di lokasi terbaik, tapi masih menempel di lokasi utama.

Dengan berbagai pertimbangan, selain menyewa, saya juga membeli satu kios di posisi agak belakang tapi masih satu jalan. Kios ini sementara disewakan dulu.

Komponen sewa termasuk pos yg besar, akan lebih baik jika kita bisa bayar sewa per bulan sehingga biaya awal menjadi lebih kecil. Harga sewa yg saya dapat termasuk murah utk di lokasi itu, pemiliknya adalah seorang pedagang senior yg memiliki puluhan kios di berbagai pasar dan sebagian besar disewakan.



Karena di pasar tradisional, jam kerjanya agak beda dengan di mall. Di mall biasa buka dari jam 10:00 - 20:30. Di pasar mulai jam 06:00 pagi sudah ramai, jadi jam 07:00 kita harus sdh buka dan tutup jam 17:30.

Untuk menutup biaya operasional bulanan minimal saya harus memperoleh pendapatan 2,8 juta. Di pasar biaya listrik dan service charge jauh lebih murah. Pegawai yg saya rekrut adalah menantu pemilik toko sebelah sehingga mudah2an lebih bisa dikontrol. Sementara 1 orang dulu.




Dengan beberapa asumsi diatas, saya akan mencapai BEP jika sales per bulan mencapai 9,45 juta. Kalau di breakdown per hari berarti sekitar 300 ribuan, atau penjualan 9 item per hari. Jualan 300 ribu aja per hari masa ga dapat? Insyaallah bisa berlipat... :)



Tapi jualan kan mesti untung, jadi saya harus menetapkan target. Targetnya ga usah muluk2. Dari data history Ruzika, saya ambil data penjualan yg masuk akal utk satu toko baru. Ternyata masih dapat Nett Profit 3,5 jutaan. Mungkin buat sebagian rekan2 nilainya ga seberapa. Tapi ada juga sebagian rekan yg lain yg sdh bekerja > 10 tahun tapi gajinya masih di bawah nilai itu. Siapa tau ini bisa jadi alternatif sampingan.

Yang perlu sedikit diperhatikan adalah jumlah stok vs sales. Karena modal minim, jumlah stok juga sedikit. Artinya kita harus lebih sering belanja barang. Stok harus dijaga jangan sampai kehabisan. Katanya sih, idealnya stok itu harus 2 x sales bulanan, tapi kalo duit udah mentok kan ga bisa dipaksa. Ya nanti sambil jalan stok ditambah sedikit2.

Tingkat pengembalian modal mencapai 8% per bulan, berarti akan kembali modal dalam waktu sekitar 1 tahun. Tapi jangan lupa, selama periode 24 bulan ke depan masih akan ada 2 x lebaran. Omzet saat Ramadhan biasanya meningkat lumayan.

Kalau melihat data ROI yg 8%, rasanya usaha ini masih layak jika dibiayai dari hutang. Kredit modal kerja dengan bunga 1.5% - 2% per bulan masih bisa di coba.

Setelah masa sewa berakhir bagaimana? Biaya yg dikeluarkan lagi hanya biaya sewa. Mungkin akan naik 5-10%. Kalau ternyata naiknya lebih dari itu atau malah kios tidak disewakan lagi bagaimana? Itu gunanya kios yg dibeli. Walau lokasi bergeser ke belakang sedikit tapi mudah2an pelanggan loyal akan tetap mencari.

Hasil lebih besar bisa dicapai jika ditangani sendiri tanpa karyawan. Tapi akan jauh lebih besar lagi jika operasional toko tetap ditangani karyawan dan pemilik tetap fokus memikirkan masalah yg lebih strategis, sistemnya, sourcingnya, pembiayaan dan... pembukaan cabang yg lain... kalo belum cape... hehe...

Oya, disclaimer on ya. Ini hanya hitung2an saya. Hitungan kertas sering beda dengan kinerja lapangan. Kalo ternyata dalam praktek profitnya jauh lebih gede, jangan kaget.... ;)

Note :
Ruzika Moslem Outlet menyediakan Paket Buka Toko.
Nilai paket ini Rp. 14.286.000, dapat diperoleh dengan hanya Rp. 10.000.000 saja.
Isi paket adalah 10 merek produk fast moving di toko kami berupa jilbab dewasa dan anak, kaos muslim dewasa dan anak serta mukena.

Wednesday, December 3, 2008

Maaf, Saya bukan Orang Gajian Lagi

Media Indonesia, 30 November 2008


BERPINDAH status dari orang gajian menjadi pengusaha membutuhkan persiapan mental dan strategi yang matang. Keterbatasan modal bukan halangan. Posisinya sebagai project manager membuat Muhammad Rosihan, 36, tahu betul jika dengan hanya dua proyek besar, perusahaan tempatnya bekerja bisa menutup biaya operasi selama setahun penuh.

Tak puas hanya menikmati cipratan proyek itu saat gajian, Rosihan pun segera memutuskan untuk pindah kuadran. Namun, ia mengaku cukup hati-hati untuk berpindah status, dari seorang pekerja jadi pebisnis. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini terlebih dahulu menguji kemampuannya sebagai seorang self employee pada bisnis konsultan teknologi informasi yang dikelolanya sejak 2002.

"Modalnya, sebuah proyek senilai Rp 30 juta, saya pikir cara ini bisa membuat saya memperoleh seluruh nilai proyek, tak seperti pekerja yang cuma dapat gaji," kata Rosihan. Selama setahun ia mencicipi pengalaman repotnya mempekerjakan diri sendiri pada bisnis yang dikelolanya.

"Namanya berbisnis di sektor jasa yang knowledge based itu memang akan melelahkan. Semuanya bergantung pada kita, proses pendelegasian berjalan lamban dan sulit," kata Rosihan. Karena sadar bahwa keleluasaan mengatur waktu dan melakukan inovasi, dua hal yang selama ini diimpikannya saat mulai berbisnis, nyaris mustahil terwujud jika ia tetap bertahan di kuadran self employee. Ia pun segera banting setir.

Sejak 2004, ia menggeluti bisnis ritel fesyen muslimah. "Memang harus ada shortcut, untuk beralih dari self employee menjadi seorang business owner. Orang sering heran, kok seorang dengan latar belakang teknologi informasi seperti saya bisa bisnis baju, padahal ini shortcut saya," kata Rosihan.

Bisnis barunya itu ternyata jauh lebih dahsyat daripada perkiraannya. Pendapatan 10 kali lebih besar daripada gaji berhasil dibukukannya hanya dalam waktu enam bulan. Kini di saat sepi, toko-tokonya bisa membukukan omzet Rp 30 juta hingga Rp 60 juta. Di saat panen Lebaran, bisa mengalirkan perputaran uang hingga Rp150 juta sampai Rp450 juta.

Jalur aman
Menjalankan bisnis berbasis self employee, seperti yang dilakukan Rosihan di awal perjalanannya sebagai pengusaha, kata Aidil Akbar, Chairman International Association of Registered Financial Consultant (IRAFC), adalah langkah pindah kuadran yang paling tepat.

"Lakukan dari yang mudah dulu, beli franchise atau jadi self employee bisa jadi pilihan. Begitu pula saat akan berpindah dari tahap pekerja yang juga pebisnis sampai total fokus usaha. Buat yang biasa jadi orang gajian, semuanya harus dipersiapkan secara terencana dan bertahap, baik itu dari segi manajemen maupun keuangan," kata Indonesia Senior Partner Pavilion Wealth Management itu.

Hal senada juga diungkapkan Yanti Isa, 41, pendiri PT Magfood Inovasi Pangan. Ia baru memutuskan untuk total jenderal di bisnis bahan pangan dan makanan cepat saji setelah tujuh tahun menjalankan bisnisnya.

"Padahal, setelah dua-tiga tahun, saya sudah balik modal. Karena saya ingin benar-benar menjadi business owner dulu sepenuhnya, baru saya melepas pekerjaan di tahun ketujuh," kata Yanti. Kini, setelah tujuh tahun berbisnis, Yanti mengaku pendapatannya sebagai pebisnis belum menyamai gaji dan keuntungan yang ia terima sebagai direksi di sebuah pabrikan bahan pangan ternama.

"Karena, saya memilih untuk tidak mengambil semua penerimaan dari hasil bisnis. Saya memilih untuk menginvestasikannya kembali, misalnya untuk beli properti," kata Yanti yang mengaku kini mesin bisnisnya bisa membukukan omzet Rp500 juta per bulan.

Jika Yanti menjadikan indikator statusnya sebagai business owner sebagai pertanda kapan ia melepas status pekerjanya, Ryad Kusuma, pebisnis fesyen dan saham, menjadikan ukuran omzet sebagai indikator kapan ia bisa melepas status pekerjanya.

Ia memutuskan mengucapkan selamat tinggal pada kantornya setelah toko-tokonya membukukan omzet Rp200 juta per bulan. Ryad yang tergabung dalam komunitas pebisnis Tangan di Atas (TDA) kini resmi menyandang status TDA.

Sebelumnya, Ryad masih tergolong amfibi, alias pekerja yang juga pebisnis. Usaha sudah di tangan, tapi kemampuan dan nyali belum mumpuni sehingga belum cukup percaya diri untuk menanggalkan status orang gajian.

Sebagian anggota TDA lainnya bahkan masih berstatus 'tangan di bawah' alias (TDB), mengandalkan gaji semata buat penghidupan mereka. Namun, sebelum mantap membuat surat pengunduran diri, seorang pebisnis pemula minimal mesti memahami dasar manajemen bisnisnya dengan tekanan pada tata kelola pemasaran dan komunikasi bisnis.

Ilmu dasar itu wajib dipelajari jika memang ingin usahanya berkembang dan jadi penopang utama kehidupan mereka.

Namun, tidak harus punya pengetahuan dulu baru jadi pengusaha karena pelaku usaha biasanya belajar sambil praktik di lapangan.

"Semua harus dipelajari dengan cepat dan mengaplikasikannya dengan cepat pula," kata Rosihan.

Singkirkan pula mental blocking, yang menurut Yanti Isa, adalah kendala paling besar, bahkan melampaui keterbatasan modal.

Jadi, kapan Anda kirim surat resign?

(Gusvarice, Zat/M-3)

UKM (masih) Tahan Krisis

Media Indonesia, Minggu 16 November 2008


MULAI Januari 2009, Ryad Kusuma, 39, mesti merogoh dana tambahan paling sedikit Rp 2,3 juta dari koceknya untuk menambal kenaikan suku bunga pinjaman. Pergerakan suku bunga yang terus meroket pasca krisis keuangan di Amerika Serikat yang kemudian merembet ke pasar global akhirnya berimbas juga pada pengusaha di sektor mikro, termasuk Ryad.

"Pada 2008 ini, bunga bank saya dengan agunan properti 12%, nilainya Rp 700 juta. Kayaknya tahun depan bisa tembus 16%, itu berarti mesti ada tambahan paling sedikit Rp 2,3 juta. Besar lo, bisa buat gaji tiga karyawan," ujar pebisnis yang beberapa bulan lalu melepas status pekerjanya untuk konsentrasi penuh mengurus usahanya itu kepada Media Indonesia awal pekan ini.

Beban itu semakin terasa makin menyesakkan dada ketika investasi Ryad di lantai bursa juga ikut rontok seiring dengan terjun bebasnya harga saham. Namun, alih-alih cuma mengerutkan kening, Ryad justru melakukan ekspansi.

Pada Oktober lalu, seusai bertandang ke pameran waralaba, Ryad memutuskan terjun di bisnis baru, jasa ekspedisi. Tentunya ia tak hendak melawan raksasa-raksasa di bisnis pengiriman. Ia memilih berada di posisi paling hilir jadi agen buat Eka Sari Lorena (ESL) Express, perusahaan yang lebih dulu berkibar di sektor transportasi.

Sebelumnya, Ryad memang telah akrab dengan dunia kirim-mengirim barang. Pasalnya, selain berdagang di pasar konvensional, ia punya toko daring yang pelanggannya berasal dari berbagai kota di Indonesia bahkan hingga Malaysia dan Singapura.

"ESL ini kompetitif, kirim tiga kg ke pelanggan di Surabaya cuma Rp 21 ribu, di ekspedisi lain Rp 39 ribu.

Dengan Rp5 juta, tempat, dan satu-dua pegawai, bisa jadi agen. Jadi bisa hemat biaya kirim, fee agen yang biasanya buat orang lain, masuk ke tangan saya dan tentunya punya bisnis baru," kata pria yang rajin menuliskan perjalanan bisnisnya di blog pribadi itu.

Belum terpengaruh
Selain faktor bunga bank yang mulai terasa mencekik, roda bisnis sektor riil, terutama UKM sendiri, kata Ryad, belum banyak terpengaruh oleh krisis keuangan di negeri seberang. Ryad mengaku kiosnya tetap mengalirkan pundi-pundi keuntungan. Daya beli masyarakat pun dirasanya masih stabil.

"Bila dibandingkan dengan penaikan harga BBM Mei lalu dengan omzet turun 20%, krisis global ini belum ada pengaruh signifikan. Sejak September, ketika krisis global mulai terdengar belum ada pengaruhnya dan sepertinya enggak akan terlalu signifikan," kata Ryad.

Hal senada juga diungkapkan Badroni Yuzirman, pendiri komunitas bisnis Tangan di Atas. Krisis saat ini memang membuat repot urusan dengan bank. Selain cenderung memampatkan likuiditasnya, mahalnya bunga jelas memengaruhi aliran kas.

"Memang, yang menjerit itu mereka yang banyak berhubungan dengan bank. Bagi yang lain, pengaruh itu bersifat tak langsung. Saya lihat UKM masih tahan kok," kata pengusaha yang juga bergerak di perdagangan busana muslim ini. Badroni mengungkapkan UKM tak terlalu banyak berinteraksi dengan kelas premium, kalangan yang memang cukup terpukul dengan krisis global.

Di Indonesia, mereka yang bermain di lantai bursa dan kemudian menelan lost memang terbilang sedikit dan eksklusif. Mereka tak masuk target pasar entrepreneur kelas mikro. Selain itu, kata Badroni, UKM juga lebih banyak bergerak di sektor kebutuhan primer. Untuk itu, tak terlalu sensitif dengan daya beli masyarakat.

Justru peluang
Seorang enterpreuneur sejati mestinya juga melihat krisis ini sebagai peluang. Menghasilkan produk-produk substitusi. Mengisi kebutuhan konsumen ketika mereka tak lagi mampu menjangkau barang yang kelasnya di atas produk yang mereka hasilkan.

Organisasi bisnis UKM yang lebih sederhana dan fleksibel membuat mereka bisa lebih mendekatkan diri dengan pasar. Lentur memainkan harga dan varian produk.

"Menurunnya daya beli terhadap produk luar dan barang premium adalah celah," tegas Badroni. Kondisi itulah, kata Ketua Koperasi Serba Usaha Emas di Purbalingga Jawa Tengah Rofik Hananto, yang membuat label tahan banting tetap bisa disematkan pada pengusaha mikro.

Belum lagi jika menghitung sumbangan pada upaya mengurangi pengangguran juga efek domino yang dihasilkan. "Jadikan ini sebagai momentum untuk membenahi produk."

Tak mengherankan, kendati daya beli masyarakat di 'Negeri Paman Sam' dan negara-negara pasar ekspor utama sedang muram, nyatanya anggota TDA di Bali yang mengekspor kerajinan tangan justru menambah sewa kontainernya bulan ini.

(Zat/M-3)

Publikasi di Media dan Tabloid

Setelah lewat hampir 2 tahun dari wawancara pertama saya dengan media Republika, beberapa minggu ini saya dan Poppy memperoleh kesempatan publikasi kembali di beberapa media :

  1. Koran Jakarta, Rabu 29 Oktober 2008. Judul artikel Bermodalkan Keyakinan dan Keuletan. Thanks buat mas Nala Dipa.
  2. Tabloid Bintang Indonesia, Minggu 2 November 2008. Muncul pada suplemen bisnis investasi, artikel Penjualan via Internet. Thanks ya mbak Wida.
  3. Media Indonesia, Minggu 16 November 2008. Artikel UKM (masih) Tahan Krisis. Thanks ya mbak Iis, walau wawancaranya agak2 belibet dan hp bolak balik low batt ternyata masih dimuat, hehe... Oya, perlu koreksi dikit di artikel ini, bunga bank saya bukan 700jt (bunganya 700jt, pokoknya brp ya.. :) ). Lalu investasi di saham masih ok, yg sempat rada jeblok justru di forex.
  4. Media Indonesia, Minggu 30 November 2008. Artikel Maaf, Saya Bukan Orang Gajian Lagi
Jujur aja, ternyata bisa tampil di media cukup menyenangkan.

Salah satu teman di kantor lama ada yg komentar "Yad lo dulu waktu masih kerja duduk anteng aja di pojokan ga pernah ada yg perhatiin, begitu keluar kerja 2 bulan malah masuk koran melulu", hehe...

Media blog ternyata cukup efektif utk menyampaikan pikiran2 kita, selain untuk jualan... :)

Sunday, November 23, 2008

Kantor Pos

Awal bulan ini saya merasa ada keanehan dalam pengiriman barang, kok tiba2 biaya kirim via pos jadi lebih mahal.

Paling terasa saat mau kirim barang ke Jayapura, dari semula 100an ribu menjadi 300an ribu, malah sempat jadi 600an ribu. Juga waktu mau kirim ke Lhoksumawe, dari 80an ribu menjadi 200an ribu.

Akhirnya saya coba datang ke kantor pos tempat saya biasa kirim barang. Ternyata biaya paket pos per 1 november sdh naik gila2an. Di daftar tarif baru, dibedakan tarif untuk dalam kota dan tarif untuk luar kota. Dan parahnya, petugas pos main pukul rata, entah karena ketidaktahuan atau karena main aman atau hal yg lain, semua paket ke suatu kota dihitung menggunakan tarif luar kota.

Hal lainnya adalah pada form pengiriman paket, jelas2 tertulis tax 1%, tapi dicantumkan nilai tax sebesar 10% dari biaya kirim. Ga tau yg benernya gimana...

Yang paling lucu, bulan ini saya ga bisa lagi kirim EMS di kantor pos tsb. Alasannya sederhana, orang yg biasa menghitung biaya EMS sdh dipindahkan ke kantor pos lain dan petugas yg ada tidak bisa menghitung EMS. Ampun.....

Balik soal tarif, dengan kenaikan yg luar biasa sementara peningkatan layanannya bisa dikatakan tidak ada, sebenarnya pelanggan sangat dirugikan. Dimulai dari pelayanan di tahap paling ujung di kantor pos dimana petugas tidak akurat dalam menghitung sampai ke tahap distribusi paket pos yg lama sekali, bahkan jika paket pos sdh sampai di kantor pos tujuan perlu waktu yg lebih lama lagi utk sampai ke alamat tujuan.

Disisi lain, sebenarnya ini peluang utk jasa paket kilat seperti ESL Express.... :)

Saya coba bandingkan tarif paket 3 kg via Pos vs ESL ke beberapa kota :
Medan : Pos 22.000 (dlm kota) - 33.500 (luar kota), ESL 31.500
Yogya : Pos 14.500 (dlm kota) - 18.500 (luar kota), ESL 19.800
Surabaya : Pos 16.500 (dlm kota) - 22.000 (luar kota), ESL 21.000
Jayapura : Pos 67.000 (dlm kota) - 209.000 (luar kota), ESL 174.000

Dengan waktu antar lebih cepat, tarifnya hanya beda tipis bahkan bisa lebih murah.

Wednesday, November 19, 2008

Dari satu bisnis ke bisnis lain

Bisnis kadang ibarat arus sungai, bisa membawa kita mengalir dari satu sungai ke sungai lain.

Saat saya cari2 lokasi utk buka usaha ESL Express, ternyata pemilik tempat adalah pengusaha yg salah satu bisnisnya adalah loket pembayaran listrik. Dia memiliki lebih dari 20 loket yg tersebar di banyak tempat. Sebetulnya tidak hanya pembayaran listrik, tapi juga telepon, internet dan voucher pulsa isi ulang elektrik. Dan sedang dalam proses utk menerima pembayaran kredit motor dan mobil.

Memang hasilnya tidak seberapa, recehan banget dibanding uang yg diputar. Awalnya saya tidak begitu tertarik, selain karena hasilnya yg minim tadi, juga kan sdh banyak ATM dimana kita bisa transaksi segala macam, masa sih masih ada orang yg mau datang ke loket? Tapi ada beberapa hal yg menjadi pertimbangan hingga akhirnya saya coba utk ikut buka.

Pertama, tidak perlu investasi tempat dan orang lagi, hanya memaksimalkan ruang dan pegawai yg ada, jadi bisa buat nambah2 utk bayar gaji.

Kedua, setelah melakukan survey ke salah satu loket pembayaran, ternyata usaha ini bagus utk mengumpulkan orang, membuat keramaian. Akan banyak orang datang ke tempat saya. Mereka akan tau ada usaha ekspedisi yg murah di tempat tsb. Kalo mereka sdh tau, kan bisa sekalian bayar listrik, sekalian bayar telepon, sekalian isi ulang pulsa (utk pulsa, saya udah dapat bbrp komentar bahwa harganya murah banget...) dan.... sekalian kirim2 barang...

Ketiga... investasi alatnya ga gitu mahal.

Setelah berjalan hampir 10 hari, ternyata ada beberapa penawaran yg lain.

Kalo dari sisi kita, yg baru kepikiran sih nambahin kulkas utk menjual minuman dingin, kemarin sdh sempat ngobrol2 sama agen teh botol, baru tau ternyata jualan teh botol marginnya lumayan gede....

Dari pihak luar juga sdh ada beberapa orang yg mengajak kerjasama dg sistem komisi.

Ada yg menawarkan utk ikut jual motor. Ada yg menawarkan kerjasama menjual jasa pembuatan perusahaan berikut dokumen2nya. Ada yg menawarkan kerjasama menjual jasa konsultan pajak dan laporan keuangan. Ada yg menawarkan kerjasama jasa akupunktur.

Mungkin ga lama lagi akan ada yg nawarin jasa pasang iklan di koran, atau jasa perpanjangan STNK, atau jasa tiket pesawat, atau jasa travel....

Ternyata prosesnya seperti ini.... :)

Ada yg mau nawarin juga ?


Note :
yg minat utk buka loket pembayaran listrik / telepon / jual pulsa bisa kontak langsung ke kordinatornya. Blognya disini : http://loket-pln.blogspot.com/