Saturday, December 6, 2008

Studi Kasus : Buka Toko Busana Muslim

Pernah beberapa kali ada email yg masuk menanyakan hitung2an utk buka toko busana muslim. Pas kebetulan ini ada hitung2an yg real utk cabang Ruzika Moslem Outlet di Pasar Ciracas, saya sharing aja.



Pasar Ciracas adalah pasar tradisional yg diremajakan. Kondisi fisik kios baru selesai dan ditempati kembali setelah lebaran 2008. Pembangunan masih berlangsung sampai saat ini, terutama utk area parkir.

Sebetulnya saya lebih suka membeli kios daripada menyewa. Tapi karena kios di posisi yg bagus sdh terisi semua dan yg dijual harganya sdh cukup tinggi, akhirnya diputuskan utk menyewa saja. Itu pun dapatnya tidak di lokasi terbaik, tapi masih menempel di lokasi utama.

Dengan berbagai pertimbangan, selain menyewa, saya juga membeli satu kios di posisi agak belakang tapi masih satu jalan. Kios ini sementara disewakan dulu.

Komponen sewa termasuk pos yg besar, akan lebih baik jika kita bisa bayar sewa per bulan sehingga biaya awal menjadi lebih kecil. Harga sewa yg saya dapat termasuk murah utk di lokasi itu, pemiliknya adalah seorang pedagang senior yg memiliki puluhan kios di berbagai pasar dan sebagian besar disewakan.



Karena di pasar tradisional, jam kerjanya agak beda dengan di mall. Di mall biasa buka dari jam 10:00 - 20:30. Di pasar mulai jam 06:00 pagi sudah ramai, jadi jam 07:00 kita harus sdh buka dan tutup jam 17:30.

Untuk menutup biaya operasional bulanan minimal saya harus memperoleh pendapatan 2,8 juta. Di pasar biaya listrik dan service charge jauh lebih murah. Pegawai yg saya rekrut adalah menantu pemilik toko sebelah sehingga mudah2an lebih bisa dikontrol. Sementara 1 orang dulu.




Dengan beberapa asumsi diatas, saya akan mencapai BEP jika sales per bulan mencapai 9,45 juta. Kalau di breakdown per hari berarti sekitar 300 ribuan, atau penjualan 9 item per hari. Jualan 300 ribu aja per hari masa ga dapat? Insyaallah bisa berlipat... :)



Tapi jualan kan mesti untung, jadi saya harus menetapkan target. Targetnya ga usah muluk2. Dari data history Ruzika, saya ambil data penjualan yg masuk akal utk satu toko baru. Ternyata masih dapat Nett Profit 3,5 jutaan. Mungkin buat sebagian rekan2 nilainya ga seberapa. Tapi ada juga sebagian rekan yg lain yg sdh bekerja > 10 tahun tapi gajinya masih di bawah nilai itu. Siapa tau ini bisa jadi alternatif sampingan.

Yang perlu sedikit diperhatikan adalah jumlah stok vs sales. Karena modal minim, jumlah stok juga sedikit. Artinya kita harus lebih sering belanja barang. Stok harus dijaga jangan sampai kehabisan. Katanya sih, idealnya stok itu harus 2 x sales bulanan, tapi kalo duit udah mentok kan ga bisa dipaksa. Ya nanti sambil jalan stok ditambah sedikit2.

Tingkat pengembalian modal mencapai 8% per bulan, berarti akan kembali modal dalam waktu sekitar 1 tahun. Tapi jangan lupa, selama periode 24 bulan ke depan masih akan ada 2 x lebaran. Omzet saat Ramadhan biasanya meningkat lumayan.

Kalau melihat data ROI yg 8%, rasanya usaha ini masih layak jika dibiayai dari hutang. Kredit modal kerja dengan bunga 1.5% - 2% per bulan masih bisa di coba.

Setelah masa sewa berakhir bagaimana? Biaya yg dikeluarkan lagi hanya biaya sewa. Mungkin akan naik 5-10%. Kalau ternyata naiknya lebih dari itu atau malah kios tidak disewakan lagi bagaimana? Itu gunanya kios yg dibeli. Walau lokasi bergeser ke belakang sedikit tapi mudah2an pelanggan loyal akan tetap mencari.

Hasil lebih besar bisa dicapai jika ditangani sendiri tanpa karyawan. Tapi akan jauh lebih besar lagi jika operasional toko tetap ditangani karyawan dan pemilik tetap fokus memikirkan masalah yg lebih strategis, sistemnya, sourcingnya, pembiayaan dan... pembukaan cabang yg lain... kalo belum cape... hehe...

Oya, disclaimer on ya. Ini hanya hitung2an saya. Hitungan kertas sering beda dengan kinerja lapangan. Kalo ternyata dalam praktek profitnya jauh lebih gede, jangan kaget.... ;)

Note :
Ruzika Moslem Outlet menyediakan Paket Buka Toko.
Nilai paket ini Rp. 14.286.000, dapat diperoleh dengan hanya Rp. 10.000.000 saja.
Isi paket adalah 10 merek produk fast moving di toko kami berupa jilbab dewasa dan anak, kaos muslim dewasa dan anak serta mukena.

Wednesday, December 3, 2008

Maaf, Saya bukan Orang Gajian Lagi

Media Indonesia, 30 November 2008


BERPINDAH status dari orang gajian menjadi pengusaha membutuhkan persiapan mental dan strategi yang matang. Keterbatasan modal bukan halangan. Posisinya sebagai project manager membuat Muhammad Rosihan, 36, tahu betul jika dengan hanya dua proyek besar, perusahaan tempatnya bekerja bisa menutup biaya operasi selama setahun penuh.

Tak puas hanya menikmati cipratan proyek itu saat gajian, Rosihan pun segera memutuskan untuk pindah kuadran. Namun, ia mengaku cukup hati-hati untuk berpindah status, dari seorang pekerja jadi pebisnis. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini terlebih dahulu menguji kemampuannya sebagai seorang self employee pada bisnis konsultan teknologi informasi yang dikelolanya sejak 2002.

"Modalnya, sebuah proyek senilai Rp 30 juta, saya pikir cara ini bisa membuat saya memperoleh seluruh nilai proyek, tak seperti pekerja yang cuma dapat gaji," kata Rosihan. Selama setahun ia mencicipi pengalaman repotnya mempekerjakan diri sendiri pada bisnis yang dikelolanya.

"Namanya berbisnis di sektor jasa yang knowledge based itu memang akan melelahkan. Semuanya bergantung pada kita, proses pendelegasian berjalan lamban dan sulit," kata Rosihan. Karena sadar bahwa keleluasaan mengatur waktu dan melakukan inovasi, dua hal yang selama ini diimpikannya saat mulai berbisnis, nyaris mustahil terwujud jika ia tetap bertahan di kuadran self employee. Ia pun segera banting setir.

Sejak 2004, ia menggeluti bisnis ritel fesyen muslimah. "Memang harus ada shortcut, untuk beralih dari self employee menjadi seorang business owner. Orang sering heran, kok seorang dengan latar belakang teknologi informasi seperti saya bisa bisnis baju, padahal ini shortcut saya," kata Rosihan.

Bisnis barunya itu ternyata jauh lebih dahsyat daripada perkiraannya. Pendapatan 10 kali lebih besar daripada gaji berhasil dibukukannya hanya dalam waktu enam bulan. Kini di saat sepi, toko-tokonya bisa membukukan omzet Rp 30 juta hingga Rp 60 juta. Di saat panen Lebaran, bisa mengalirkan perputaran uang hingga Rp150 juta sampai Rp450 juta.

Jalur aman
Menjalankan bisnis berbasis self employee, seperti yang dilakukan Rosihan di awal perjalanannya sebagai pengusaha, kata Aidil Akbar, Chairman International Association of Registered Financial Consultant (IRAFC), adalah langkah pindah kuadran yang paling tepat.

"Lakukan dari yang mudah dulu, beli franchise atau jadi self employee bisa jadi pilihan. Begitu pula saat akan berpindah dari tahap pekerja yang juga pebisnis sampai total fokus usaha. Buat yang biasa jadi orang gajian, semuanya harus dipersiapkan secara terencana dan bertahap, baik itu dari segi manajemen maupun keuangan," kata Indonesia Senior Partner Pavilion Wealth Management itu.

Hal senada juga diungkapkan Yanti Isa, 41, pendiri PT Magfood Inovasi Pangan. Ia baru memutuskan untuk total jenderal di bisnis bahan pangan dan makanan cepat saji setelah tujuh tahun menjalankan bisnisnya.

"Padahal, setelah dua-tiga tahun, saya sudah balik modal. Karena saya ingin benar-benar menjadi business owner dulu sepenuhnya, baru saya melepas pekerjaan di tahun ketujuh," kata Yanti. Kini, setelah tujuh tahun berbisnis, Yanti mengaku pendapatannya sebagai pebisnis belum menyamai gaji dan keuntungan yang ia terima sebagai direksi di sebuah pabrikan bahan pangan ternama.

"Karena, saya memilih untuk tidak mengambil semua penerimaan dari hasil bisnis. Saya memilih untuk menginvestasikannya kembali, misalnya untuk beli properti," kata Yanti yang mengaku kini mesin bisnisnya bisa membukukan omzet Rp500 juta per bulan.

Jika Yanti menjadikan indikator statusnya sebagai business owner sebagai pertanda kapan ia melepas status pekerjanya, Ryad Kusuma, pebisnis fesyen dan saham, menjadikan ukuran omzet sebagai indikator kapan ia bisa melepas status pekerjanya.

Ia memutuskan mengucapkan selamat tinggal pada kantornya setelah toko-tokonya membukukan omzet Rp200 juta per bulan. Ryad yang tergabung dalam komunitas pebisnis Tangan di Atas (TDA) kini resmi menyandang status TDA.

Sebelumnya, Ryad masih tergolong amfibi, alias pekerja yang juga pebisnis. Usaha sudah di tangan, tapi kemampuan dan nyali belum mumpuni sehingga belum cukup percaya diri untuk menanggalkan status orang gajian.

Sebagian anggota TDA lainnya bahkan masih berstatus 'tangan di bawah' alias (TDB), mengandalkan gaji semata buat penghidupan mereka. Namun, sebelum mantap membuat surat pengunduran diri, seorang pebisnis pemula minimal mesti memahami dasar manajemen bisnisnya dengan tekanan pada tata kelola pemasaran dan komunikasi bisnis.

Ilmu dasar itu wajib dipelajari jika memang ingin usahanya berkembang dan jadi penopang utama kehidupan mereka.

Namun, tidak harus punya pengetahuan dulu baru jadi pengusaha karena pelaku usaha biasanya belajar sambil praktik di lapangan.

"Semua harus dipelajari dengan cepat dan mengaplikasikannya dengan cepat pula," kata Rosihan.

Singkirkan pula mental blocking, yang menurut Yanti Isa, adalah kendala paling besar, bahkan melampaui keterbatasan modal.

Jadi, kapan Anda kirim surat resign?

(Gusvarice, Zat/M-3)

UKM (masih) Tahan Krisis

Media Indonesia, Minggu 16 November 2008


MULAI Januari 2009, Ryad Kusuma, 39, mesti merogoh dana tambahan paling sedikit Rp 2,3 juta dari koceknya untuk menambal kenaikan suku bunga pinjaman. Pergerakan suku bunga yang terus meroket pasca krisis keuangan di Amerika Serikat yang kemudian merembet ke pasar global akhirnya berimbas juga pada pengusaha di sektor mikro, termasuk Ryad.

"Pada 2008 ini, bunga bank saya dengan agunan properti 12%, nilainya Rp 700 juta. Kayaknya tahun depan bisa tembus 16%, itu berarti mesti ada tambahan paling sedikit Rp 2,3 juta. Besar lo, bisa buat gaji tiga karyawan," ujar pebisnis yang beberapa bulan lalu melepas status pekerjanya untuk konsentrasi penuh mengurus usahanya itu kepada Media Indonesia awal pekan ini.

Beban itu semakin terasa makin menyesakkan dada ketika investasi Ryad di lantai bursa juga ikut rontok seiring dengan terjun bebasnya harga saham. Namun, alih-alih cuma mengerutkan kening, Ryad justru melakukan ekspansi.

Pada Oktober lalu, seusai bertandang ke pameran waralaba, Ryad memutuskan terjun di bisnis baru, jasa ekspedisi. Tentunya ia tak hendak melawan raksasa-raksasa di bisnis pengiriman. Ia memilih berada di posisi paling hilir jadi agen buat Eka Sari Lorena (ESL) Express, perusahaan yang lebih dulu berkibar di sektor transportasi.

Sebelumnya, Ryad memang telah akrab dengan dunia kirim-mengirim barang. Pasalnya, selain berdagang di pasar konvensional, ia punya toko daring yang pelanggannya berasal dari berbagai kota di Indonesia bahkan hingga Malaysia dan Singapura.

"ESL ini kompetitif, kirim tiga kg ke pelanggan di Surabaya cuma Rp 21 ribu, di ekspedisi lain Rp 39 ribu.

Dengan Rp5 juta, tempat, dan satu-dua pegawai, bisa jadi agen. Jadi bisa hemat biaya kirim, fee agen yang biasanya buat orang lain, masuk ke tangan saya dan tentunya punya bisnis baru," kata pria yang rajin menuliskan perjalanan bisnisnya di blog pribadi itu.

Belum terpengaruh
Selain faktor bunga bank yang mulai terasa mencekik, roda bisnis sektor riil, terutama UKM sendiri, kata Ryad, belum banyak terpengaruh oleh krisis keuangan di negeri seberang. Ryad mengaku kiosnya tetap mengalirkan pundi-pundi keuntungan. Daya beli masyarakat pun dirasanya masih stabil.

"Bila dibandingkan dengan penaikan harga BBM Mei lalu dengan omzet turun 20%, krisis global ini belum ada pengaruh signifikan. Sejak September, ketika krisis global mulai terdengar belum ada pengaruhnya dan sepertinya enggak akan terlalu signifikan," kata Ryad.

Hal senada juga diungkapkan Badroni Yuzirman, pendiri komunitas bisnis Tangan di Atas. Krisis saat ini memang membuat repot urusan dengan bank. Selain cenderung memampatkan likuiditasnya, mahalnya bunga jelas memengaruhi aliran kas.

"Memang, yang menjerit itu mereka yang banyak berhubungan dengan bank. Bagi yang lain, pengaruh itu bersifat tak langsung. Saya lihat UKM masih tahan kok," kata pengusaha yang juga bergerak di perdagangan busana muslim ini. Badroni mengungkapkan UKM tak terlalu banyak berinteraksi dengan kelas premium, kalangan yang memang cukup terpukul dengan krisis global.

Di Indonesia, mereka yang bermain di lantai bursa dan kemudian menelan lost memang terbilang sedikit dan eksklusif. Mereka tak masuk target pasar entrepreneur kelas mikro. Selain itu, kata Badroni, UKM juga lebih banyak bergerak di sektor kebutuhan primer. Untuk itu, tak terlalu sensitif dengan daya beli masyarakat.

Justru peluang
Seorang enterpreuneur sejati mestinya juga melihat krisis ini sebagai peluang. Menghasilkan produk-produk substitusi. Mengisi kebutuhan konsumen ketika mereka tak lagi mampu menjangkau barang yang kelasnya di atas produk yang mereka hasilkan.

Organisasi bisnis UKM yang lebih sederhana dan fleksibel membuat mereka bisa lebih mendekatkan diri dengan pasar. Lentur memainkan harga dan varian produk.

"Menurunnya daya beli terhadap produk luar dan barang premium adalah celah," tegas Badroni. Kondisi itulah, kata Ketua Koperasi Serba Usaha Emas di Purbalingga Jawa Tengah Rofik Hananto, yang membuat label tahan banting tetap bisa disematkan pada pengusaha mikro.

Belum lagi jika menghitung sumbangan pada upaya mengurangi pengangguran juga efek domino yang dihasilkan. "Jadikan ini sebagai momentum untuk membenahi produk."

Tak mengherankan, kendati daya beli masyarakat di 'Negeri Paman Sam' dan negara-negara pasar ekspor utama sedang muram, nyatanya anggota TDA di Bali yang mengekspor kerajinan tangan justru menambah sewa kontainernya bulan ini.

(Zat/M-3)

Publikasi di Media dan Tabloid

Setelah lewat hampir 2 tahun dari wawancara pertama saya dengan media Republika, beberapa minggu ini saya dan Poppy memperoleh kesempatan publikasi kembali di beberapa media :

  1. Koran Jakarta, Rabu 29 Oktober 2008. Judul artikel Bermodalkan Keyakinan dan Keuletan. Thanks buat mas Nala Dipa.
  2. Tabloid Bintang Indonesia, Minggu 2 November 2008. Muncul pada suplemen bisnis investasi, artikel Penjualan via Internet. Thanks ya mbak Wida.
  3. Media Indonesia, Minggu 16 November 2008. Artikel UKM (masih) Tahan Krisis. Thanks ya mbak Iis, walau wawancaranya agak2 belibet dan hp bolak balik low batt ternyata masih dimuat, hehe... Oya, perlu koreksi dikit di artikel ini, bunga bank saya bukan 700jt (bunganya 700jt, pokoknya brp ya.. :) ). Lalu investasi di saham masih ok, yg sempat rada jeblok justru di forex.
  4. Media Indonesia, Minggu 30 November 2008. Artikel Maaf, Saya Bukan Orang Gajian Lagi
Jujur aja, ternyata bisa tampil di media cukup menyenangkan.

Salah satu teman di kantor lama ada yg komentar "Yad lo dulu waktu masih kerja duduk anteng aja di pojokan ga pernah ada yg perhatiin, begitu keluar kerja 2 bulan malah masuk koran melulu", hehe...

Media blog ternyata cukup efektif utk menyampaikan pikiran2 kita, selain untuk jualan... :)

Sunday, November 23, 2008

Kantor Pos

Awal bulan ini saya merasa ada keanehan dalam pengiriman barang, kok tiba2 biaya kirim via pos jadi lebih mahal.

Paling terasa saat mau kirim barang ke Jayapura, dari semula 100an ribu menjadi 300an ribu, malah sempat jadi 600an ribu. Juga waktu mau kirim ke Lhoksumawe, dari 80an ribu menjadi 200an ribu.

Akhirnya saya coba datang ke kantor pos tempat saya biasa kirim barang. Ternyata biaya paket pos per 1 november sdh naik gila2an. Di daftar tarif baru, dibedakan tarif untuk dalam kota dan tarif untuk luar kota. Dan parahnya, petugas pos main pukul rata, entah karena ketidaktahuan atau karena main aman atau hal yg lain, semua paket ke suatu kota dihitung menggunakan tarif luar kota.

Hal lainnya adalah pada form pengiriman paket, jelas2 tertulis tax 1%, tapi dicantumkan nilai tax sebesar 10% dari biaya kirim. Ga tau yg benernya gimana...

Yang paling lucu, bulan ini saya ga bisa lagi kirim EMS di kantor pos tsb. Alasannya sederhana, orang yg biasa menghitung biaya EMS sdh dipindahkan ke kantor pos lain dan petugas yg ada tidak bisa menghitung EMS. Ampun.....

Balik soal tarif, dengan kenaikan yg luar biasa sementara peningkatan layanannya bisa dikatakan tidak ada, sebenarnya pelanggan sangat dirugikan. Dimulai dari pelayanan di tahap paling ujung di kantor pos dimana petugas tidak akurat dalam menghitung sampai ke tahap distribusi paket pos yg lama sekali, bahkan jika paket pos sdh sampai di kantor pos tujuan perlu waktu yg lebih lama lagi utk sampai ke alamat tujuan.

Disisi lain, sebenarnya ini peluang utk jasa paket kilat seperti ESL Express.... :)

Saya coba bandingkan tarif paket 3 kg via Pos vs ESL ke beberapa kota :
Medan : Pos 22.000 (dlm kota) - 33.500 (luar kota), ESL 31.500
Yogya : Pos 14.500 (dlm kota) - 18.500 (luar kota), ESL 19.800
Surabaya : Pos 16.500 (dlm kota) - 22.000 (luar kota), ESL 21.000
Jayapura : Pos 67.000 (dlm kota) - 209.000 (luar kota), ESL 174.000

Dengan waktu antar lebih cepat, tarifnya hanya beda tipis bahkan bisa lebih murah.

Wednesday, November 19, 2008

Dari satu bisnis ke bisnis lain

Bisnis kadang ibarat arus sungai, bisa membawa kita mengalir dari satu sungai ke sungai lain.

Saat saya cari2 lokasi utk buka usaha ESL Express, ternyata pemilik tempat adalah pengusaha yg salah satu bisnisnya adalah loket pembayaran listrik. Dia memiliki lebih dari 20 loket yg tersebar di banyak tempat. Sebetulnya tidak hanya pembayaran listrik, tapi juga telepon, internet dan voucher pulsa isi ulang elektrik. Dan sedang dalam proses utk menerima pembayaran kredit motor dan mobil.

Memang hasilnya tidak seberapa, recehan banget dibanding uang yg diputar. Awalnya saya tidak begitu tertarik, selain karena hasilnya yg minim tadi, juga kan sdh banyak ATM dimana kita bisa transaksi segala macam, masa sih masih ada orang yg mau datang ke loket? Tapi ada beberapa hal yg menjadi pertimbangan hingga akhirnya saya coba utk ikut buka.

Pertama, tidak perlu investasi tempat dan orang lagi, hanya memaksimalkan ruang dan pegawai yg ada, jadi bisa buat nambah2 utk bayar gaji.

Kedua, setelah melakukan survey ke salah satu loket pembayaran, ternyata usaha ini bagus utk mengumpulkan orang, membuat keramaian. Akan banyak orang datang ke tempat saya. Mereka akan tau ada usaha ekspedisi yg murah di tempat tsb. Kalo mereka sdh tau, kan bisa sekalian bayar listrik, sekalian bayar telepon, sekalian isi ulang pulsa (utk pulsa, saya udah dapat bbrp komentar bahwa harganya murah banget...) dan.... sekalian kirim2 barang...

Ketiga... investasi alatnya ga gitu mahal.

Setelah berjalan hampir 10 hari, ternyata ada beberapa penawaran yg lain.

Kalo dari sisi kita, yg baru kepikiran sih nambahin kulkas utk menjual minuman dingin, kemarin sdh sempat ngobrol2 sama agen teh botol, baru tau ternyata jualan teh botol marginnya lumayan gede....

Dari pihak luar juga sdh ada beberapa orang yg mengajak kerjasama dg sistem komisi.

Ada yg menawarkan utk ikut jual motor. Ada yg menawarkan kerjasama menjual jasa pembuatan perusahaan berikut dokumen2nya. Ada yg menawarkan kerjasama menjual jasa konsultan pajak dan laporan keuangan. Ada yg menawarkan kerjasama jasa akupunktur.

Mungkin ga lama lagi akan ada yg nawarin jasa pasang iklan di koran, atau jasa perpanjangan STNK, atau jasa tiket pesawat, atau jasa travel....

Ternyata prosesnya seperti ini.... :)

Ada yg mau nawarin juga ?


Note :
yg minat utk buka loket pembayaran listrik / telepon / jual pulsa bisa kontak langsung ke kordinatornya. Blognya disini : http://loket-pln.blogspot.com/

Saturday, November 15, 2008

Karyawan yang tidak pernah promosi

Bisnis yg ga tumbuh ibarat karyawan yg ga pernah promosi,
jadi, bagaimana supaya bisnis tetap tumbuh?

Banyak cara..tapi gampangnya kita lihat saja bagaimana cara kerja rekan2 saya di TDA.

1. Pak Hadi
Dulu jual Rabbani sbg sub agen,
kemudian jadi bandar Rabbani penguasa jawa tengah,
sekarang jadi raja selimut.

2. Mbak Doris
Buka toko busana muslim di tebet,
buka toko online,
buka toko busana lagi di tebet,
buka lagi rumah kerudung lamara di ITC kuningan

3. Pak Faif
buka toko busana muslim di tambun,
jadi pengarang buku laris,
buka lagi toko di giant bekasi,
kemarin kayaknya mo buka lagi... msh survey2... ;)

4. Pak Rosihan
Buka toko busana muslim di.. mana2... :)
buka toko online
buka toko tas
buka warung pulsa

5. Bu Ita
Jadi agen busana muslim,
Begitu pasarnya udah gede... bajunya bikin sendiri.. jadi produsen.

Ya itu beberapa contoh aja,banyak lagi yg lain yg blm saya sebutin.

Kalo di lihat polanya :

do while .t.
  1. Buka satu bisnis...
  2. usahakan dapat banyak pelanggan,
  3. naikkan omset.. naikkan profit...
  4. sebagian profit di putar lagi ke bisnis baru
  5. exit hanya kalo udah bosen
endd

Tapi ada juga yg polanya agak beda :
  1. buka satu bisnis
  2. gedein omset
  3. gedein omset
  4. gedein omset
  5. dst...
Contohnya : Pak Roni, Pak Afrizal

gimana supaya banyak pelanggan?
gimana supaya omset naik?
gimana supaya profit naik?
dalam perjalanan nanti kita akan ketemu banyak suhu
dan kita bisa banyak belajar dari mereka.... :)

Wednesday, November 12, 2008

Peluang Usaha

Banyak orang yang bingung mau usaha apa.
Ingin usaha makanan, ga bisa masak.
Ingin dagang pakaian, ga bisa jahit.
Ingin jadi grosir, ga tau mesti kulakan dimana.

Tapi ada juga orang yang memulai dari hal yg sederhana, yg ada di depan mata.

Salah satu karyawan saya di ESL termasuk diantaranya,
melihat banyaknya orang yg datang ke kantor,
dia menawarkan pada saya utk jualan makanan kecil,
karena saya tidak merespon,
dia inisiatif utk mengambil peluang itu,
kemarin dia bawa 20 roti,
dipajang di meja, dan habis terjual...
hmm... kalo skala ekonominya sdh masuk,
saya tinggal ancang2 narik uang sewa meja,
lumayan other income... hehehe...

Karyawan saya yg lain di Ruzika,
saya baru tau ternyata dia juga terkenal sebagai penjual pulsa isi ulang di lingkungannya,
asal jangan sibuk jualan pulsa trus dagangan jilbab dilupain nih...
jadi ingat jaman masih amphibi...
sibuk dagang, urusan kantor dimasukin ke laci dulu, hehe...

Keponakan saya, Faisal, 13 tahun,
karena koperasi sekolah agak jauh,
dia selalu stok kertas jawaban ulangan di tasnya,
awalnya hanya utk kepentingan dia sendiri,
begitu ada ulangan dadakan dan banyak teman2nya tidak siap dg kertas ulangan,
dia jual kertas ulangan itu ke teman2nya,
kalo stoknya kertas cuma sedikit harganya dinaikan 2 kali lipat,
kecil2 udah ngerti teori supply vs demand...

Recehan ya? Tapi itu kan baru awal.... Tinggal bagaimana diasahnya aja.

Tuesday, November 11, 2008

Satu lagi email jadul

Yg ini email setelah 1 bulan buka toko di Plaza Cibubur, tgl 5 Sept 2006.

Dulu waktu baru mulai, masih banyak pertanyaan bagaimana kalo ini, bagaimana kalo itu.
Sampai sekarang pun pertanyaan2 itu masih ada dan malah makin bervariasi.

Tapi ternyata itu bukan hambatan.... :)

Seperti yg tadi pagi diutarakan oleh pak Haji Ali di bandara sesaat sebelum berangkat ke malaysia : jalani saja dulu, dari situ akan muncul tantangan, kemudian kita pikirkan dan selesaikan....

2 tahun lebih di TDA, baru kesampaian ngobrol berdua sama pak Haji tadi pagi.... hehe...



================================================
Dear Pak Fuad n Rekan2,
Selamat ya, moga2 lancar.

Kita senasib nih Pak,
gara2 ikutan milis kayak gini jadi ketularan ingin buka warung.

Saya juga baru tgl 5 aug kemarin buka warung di plaza cibubur.
jualan jilbab juga, Rabbani...

Pak Fuad dan Rekan2, sharing ya :
waktu pertama kali apply jadi sub agen sempat rada ngeri,
soalnya ditargetin minimal belanja 3 jt / bln,
mikirnya.. apa iya kita bisa jualan jilbab sebulan 3jt?

awalnya kita coba jualan di garasi dan titip jual dibbrp tempat dulu,
itu awalnya tgl 16 juli, kok ternyata rame...

mulai deh kita cari2 kios,
ternyata mahal2 ya...
sampai suatu malam, istri pulang dari kantor mampir ke plaza cibubur,
iseng2 tanya kios, kebetulan ketemu langsung sama pengelola, kebetulan lagi, cocok juga harganya, kita ambil aja, tapi kita cuma punya waktu 1 minggu utk buka kios tsb, akhirnya dengan persiapan seadanya, kita buka kios....

hari pertama,
buka dari jam 9 pagi sampai jam 9malam,
kayaknya banyakan yg jaga kios daripada pengunjung yg beli, hehehe...

tapi trend hari2 berikutnya mulai menunjukkan kenaikan,
malah seminggu kemudian, omzet sukses tembus diatas 1juta / hari.
wah.. senang banget.

tapi memang ga stabil, omzet sabtu, minggu dan hari libur cenderung lebih besar.
tgl tua, omzet cenderung turun. Masih normal kali ya?

Bulan aug sdh lewat,
2 karyawan yg sdh membantu dg penuh dedikasi sdh kita berikan hak dasarnya,

plus bonusnya, karena target sdh terlewati.
Ada rasa haru saat memberikannya, karena bagi mereka ini juga kali pertama mereka memperoleh uang gaji dg jumlah yg menyamai UMR, dan itu nilai bersih, karena makan dan tidur kita tanggung.

sewa tempat sengaja blm dibayar, krn deadline sampai tgl 10,
ya lumayan duitnya kita puterin dulu.

Diluar target bulan pertama yg telah tercapai,
masih ada beberapa pemikiran yg masih menggantung :
- bagaimana memenuhi model/warna/ukuran sesuai keinginan pelanggan, karena ternyata agak sulitmendapatkan barangnya, padahal ini kan potensial sales.
- bagaimana melonjakkan nilai sales secara dramatis
- bagaimana mengontrol stok dg lebih baik
- bagaimana meningkatkan kualitas SDM
- dan yang menurut saya sangat penting, bagaimana agar bisnis ini bisa bertahan, tidak menjadi bisnis kagetan dan sementara saja, tapi bagaimana supaya bisa berkelanjutan dan berkembang.
- satu lagi dink, bagaimana ngatur waktunya ya, saya dan istri, senin - jumat jadi TDB, malamnya ngontrol kios + ngurusin kost2an & kontrakan, sabtu-minggu, kalo ga ikutan jaga ya belanja / cari barang, anak saya juga jadi ketularan senang main dagang2an kalo mau bobo, anak lain kalo bobo pegang boneka, anak saya pegangannya kalkulator, hehehe...., abis tiap hari ngeliatin orangtuanya ngitung dagangan melulu.

Nggak rugi ikut milis ini. Kita bisa belajar banyak dari senior2 disini.
Ya walau awalnya rada2 nyontek.

Kan di bukunya Purdie, katanya bisnis bisa dimulai dengan :
1. Ide orang lain
2. Duit orang lain
3. Tenaga orang lain
Saat ini cuma no. 3 yg masih sebagian2.

Oya, untuk variasi, saat ini saya juga menjual baju koko uje (preview).
Mungkin ada teman2 yg bersedia titip jual ditempat saya?

mungkin baju muslim anak2 / wanita?
Ya itu dulu deh....


Salam,
Ryad

Email jaman dulu banget...

Ga sengaja nemu email ke milis TDA jaman dulu banget waktu pertama kali mau dagang.
Email ini tgl 18 Juli 2006, 2 hari setelah coba jualan jilbab.

==============================================
Teman2 TDA,Milis TDA banyak virusnya nih... ganas2 pula... ;)

Pak Roni, terima kasih atas email2 inspirasinya.
Pak Hadi, terima kasih atas ide bisnisnya, nyontek dulu boleh ya pak.
Pak Budi R, terima kasih atas ide leverage propertinya, ini pasti akan membuka pintu baru buat saya.
Pak Masbukhin, terima kasih kemarin ikut conference, saya dapat ide bahwa utk bisnis modal ga perlu besar.
Teman2 lain yg ga bisa disebutin satu2, terima kasih atas share big n small winningnya, bener2 membuat semangat kita terpacu.

Bakar kapal? belum berani euy... hehe...

per 16 juli, saya n istri coba dagang busana muslim,
krn ga punya outlet,sementara jualan di rumah dulu...
ternyata laku banget...
2 hari ini stok sdh habis 50%,
padahal target stok awal baru akan habis dalam sebulan,
kaget juga... :)

Trus, kemarin istri sengaja cuti utk cari outlet utk konsinyasi, udah dapet 3 outlet di lokasi strategis utk kerjasama, berhubung modal cekak, yah sementara ini target di 5 outlet dulu aja, jadi nanti sabtu, abis belanja barang lagi, kita akan cari 2 outlet lagi.

Terus terang semuanya diluar dugaan,
dan ga pake terlalu banyak hitungan njelimet,
Toh kalo rugi total, paling kita cuma rugi dg nilai yg sdh terukur.
Nanti kalo ke depan ada masalah,
ya kita lihat satu-satu masalahnya apa dan bagaimana solusinya.

kita coba aja... pokoknya ACTION!!

Utk itu, mohon doa dan bantuan teman2 sekalian.....
siapa tau ada yg kenal produsen/supplier busana muslim murahberkualitas... :)
siapa tau ada yg pernah usaha seperti ini dan bisa sharing kendala +solusi...
dan tetap butuh masukan dari para senior...

Salam,
Ryad