Thursday, March 29, 2007

Jualan di Mall

Teman2 ada yg ingin jualan di mall dengan biaya minimal?

Kebetulan saya ada 2 outlet di mall, 1 di plaza cibubur, 1 lagi di bogor trade mall. Saya ingin ajak teman2 yg ingin jualan tapi terkendala dengan sewa space yg lumayan mahal, per meter sekitar 600 ribu per bulan, dan kadang diminta bayar beberapa bulan sekaligus dimuka.

Utk setiap outlet, saya menyediakan space utk 2 gawang (biasa dipakai utk gantungan baju) berukuran 1 m.

Barangnya bisa berupa apapun asal tidak sejenis dg barang yg saya jual, dan barang itu bisa digantung di gawang. Tapi harus 1 tema dengan toko saya, yaitu muslim fashion.

Biayanya hanya Rp. 450.000 per bulan, dibayar bulanan, kontrak selama 3 bulan. Dan keuntungan penjualan 100% jadi milik anda.

Yang perlu anda siapkan hanya :
  1. Produknya
  2. Alat displaynya (gawang)
  3. Penjaganya

Dengan asumsi gaji karyawan rp. 500.000 per bulan, sewa space rp. 450.000 per bulan, maka BEP tercapai hanya dengan keuntungan minimal rp. 32.000 per hari.

Jika marginnya 30%, berarti operasional sudah tertutup jika omzet mencapai rp. 106.000 per hari, lebih dari itu adalah keuntungan anda.

Silahkan dipelajari apakah ini feasible untuk usaha anda.

Bisa jadi ini hanya sebagai sarana belajar dan batu loncatan, karena dg membuka 'pos' di mall akses terhadap aneka informasi seputar mall seperti kios yg mau dijual, berapa harganya, kapan ada pameran, networking dgn pedagang lain, dimana beli barang dg harga bagus, dimana tempat jual yg rame, dsb. akan semakin terbuka lebar.

Jika berminat, silahkan email saya di saturyad@yahoo.com

.

Tuesday, March 27, 2007

Jualan di Internet via Blog

Sekitar okt-nov 2006, di milis TDA rame membahas soal internet marketing. Saya pikir2.. gimana kalo jualan di internet lagi ya... tapi mau bikin web yg rada prof kok males, cari yg gratisan aja deh..

Setelah lihat kiri kanan, kenapa ga pake blog aja ya? Coba2 create blog, mikir konsepnya, scan brosur2, edit, bikin artikelnya.. akhirnya 20 nov 06 jadilah blog Ruzika Collection.

Hanya beberapa hari setelah online, email dan sms mulai berdatangan dari berbagai daerah, wah rame nih... :)

Sampai akhirnya datang order pertama dari makassar, jumlahnya ga banyak, seingat saya 3 atau 4 item, tapi senang sekali, ini orderan pertama dari web.

Yang bikin bingung adalah bagaimana kirimnya, coba tanya kesana kemari, akhirnya malah ketemu di dekat rumah ada wartel yg juga jadi agen pos dan tiki. Kadang juga pakai dari multiplus, karena untuk kota2 tertentu lebih murah. Soal kirim barang, beres.

Nggak lama kemudian, mulai berdatangan order dalam jumlah lusinan, dari jabotabek, jawa tengah, jawa timur, nusa tenggara, bali, sulawesi, kalimantan, sumatra. Tapi kalo baca di www.google.com/analytics pembaca blognya malah sampai ke amerika, amerika utara, eropa, timur tengah, asia tengah, asia timur, yg ga ada cuma dari afrika dan australia, kenapa ya?

Kemudian ada pembaca blog dari singapore, orang indonesia yg tinggal disana, beberapa kali memesan produk kami, tapi pengiriman barangnya tidak langsung kesana tapi melalui saudaranya yg tinggal di jakarta dan di batam, untuk kemudian di bawa sendiri ke singapore.

Rupanya kejadian diatas adalah proses tahapan menuju export, karena kemudian ada lagi pembaca blog, orang asli malaysia, yg memesan barang juga, awalnya hanya pesan 2 buah, wah... ongkos kirim dan harga barangnya nyaris sama, tapi ini adalah export kita yg pertama, hehe...

Setelah barang diterima, ternyata istri beliau senang dan akhirnya memesan dalam jumlah yg lebih banyak utk ditawarkan ke teman2nya.

Bahkan beberapa hari lalu, ada lagi order dalam jumlah yg belum pernah kita peroleh, bahkan dari orderan lokal, dari orang yg berbeda di singapore dan malaysia.

Dengan semakin banyaknya order dari web, ternyata memunculkan masalah baru, karena antara supply dan demand makin terasa ada jarak. Apa yg diorder, belum tentu ada stoknya.

Kalo di toko sih lebih mudah, kalo model or warna yg diinginkan ga ada, masih bisa ditawarkan model or warna lain yg mirip, dan pembelinya juga bisa melihat langsung barangnya, jadi lebih mudah disubstitusi.

Tapi kalo di web kan beda, makanya kalo pembeli selain order asli juga kasih alternatif model or warna or size, akan lebih mudah buat kita... :)

Utk ngatasin ini, awalnya kita coba penuhin stok dg sebanyak mungkin kombinasi model, warna dan size. Kalo utk kasus SIK Clothing, ada 32 model, masing2 bisa ada 3-4 warna, masing2 ada size S-M-L, kalo mau dikompletin semua satu2, berarti ada 300an item, wah.. butuh modal lumayan nih buat sekali belanja.

Tapi seminggu kemudian, karena brg cuma ada 1-2-3 per model-warna-size, udah mulai banyak kosong lagi, jadi waktu barang pesanan sebelumnya datang, kita sudah harus siap dengan order berikutnya ke pabrik.

Yang repot kalo ada order untuk satu model tertentu dalam jumlah banyak, udah pasti susah, kalo ada begini kita coba kerjasama dengan beberapa agen yg lain, kalo mereka ada barang, kita beli dulu, konsekwensinya margin tipis banget krn bukan beli ke pabrik, tapi gapapa yg penting pembeli puas. Kalo mereka ga ada, ya terpaksa kita pesan lagi ke pabrik, tapi ini butuh waktu.

So far.. jualan di internet menyenangkan kalo dilihat dari sisi ini : ga sewa tempat, ga bayar karyawan, ga bayar listrik n service charge, tinggal duduk, cek email / sms, cek stok, cek rekening, lalu kirim barang, tapi omzetnya berkali-kali lipat dari outlet kami yg di cilengsi.

Belum lagi dari blog itu kita bisa nambah kenalan, nambah teman. Karena ada pembaca blog yg tidak beli produknya, tapi mengambil spiritnya untuk juga memulai usaha. Hal yg seperti ini tidak bisa dinilai dg uang semata.

Terus terang ini diluar perkiraan, karena tadinya saya pikir orang kalo beli baju or jilbab akan lebih suka kalo liat dulu, pegang dulu... tapi itu ternyata udah jaman dulu. Dan saya beruntung berada di lingkungan TDA.

Tapi.. saya terima kasih banget kalo pak Roni (contoh kasus dg manet-nya) atau rekan2 TDA yg lain mau ngajarin saya bagaimana mengelola stok sehingga supply dan demand bisa match....


.

Wednesday, March 21, 2007

Persiapan Jadi Pengusaha (Full TDA)

Saat ini status saya masih amphibi, karyawan iya, usaha iya. Sebetulnya enak sih dapat income dari sana sini. Tapi pada akhirnya suatu saat nanti saya harus fokus pada usaha yg sekarang dirintis (istilahnya, jadi full TDA), karena peluang dari usaha lebih besar dibanding sekedar jadi karyawan, ini pengalaman saya lho... pengalaman teman2 yg lain bisa jadi berbeda.

Tapi apakah usahanya sdh bisa diandalkan? Apakah usahanya bisa mensupport keluarga? Apakah usahanya mampu bertahan menghadapi tantangan jaman?

Itu pertanyaan sulit dan semua pertanyaan itu belum bisa saya jawab sekarang.

Saat ini yg saya lakukan adalah terus membangun dan mengembangkan usaha dengan memakai semua resource yg saya punya. Makin banyak resource yg dipakai, makin cepat bisnis berputar. Salah satu resource penting adalah uang.

Tapi karena gaji terbatas, uang yg saya punya juga ga banyak, jadi harus menggunakan uang pihak lain. Bagaimana supaya pihak lain percaya dengan kemampuan saya membayar cicilan hutang sehingga mereka mau meminjamkan uangnya? Ini bukan perkara gampang.

Kalau kita mengajukan kredit ke bank dgn status sebagai pengusaha, mereka meminta NPWP, SIUP, TDP, badan hukum usaha, usaha sudah jalan minimal 2 tahun, copy rekening 3 bulan terakhir, wah.. ribet banget.

Untungnya -luck factor nih- dengan status karyawan, saya masih bisa mengajukan kredit hanya dengan modal slip gaji. Terus terang saya hobi ngutang dan dengan ngutang ini saya bisa beli beberapa rumah walaupun tipe imut semua. Ga kebayang kalau saya dulu cuma mengandalkan tabungan, pasti asset saya jauh dari yg ada sekarang.

Tapi dari situ saya tau, supaya usaha saya bisa survive, supaya bisa full TDA, supaya bisa tetap menjalankan hobi ngutang, yg harus saya harus lakukan adalah :
  1. Membentuk badan hukum untuk menaungi usaha, lengkap dengan segala atributnya seperti NPWP, SIUP, TDP dan entah apa lagi. Dan jangan lupa, mengangkat diri sendiri jadi direktur, hehehe....
  2. Menjalankan usaha ini paling tidak 2 tahun, sehingga tahu apa saja permasalahan yg akan dihadapi dan bagaimana mengatasinya, paling nggak sudah punya jam terbang lah.
  3. Membuat catatan mutasi rekening bank yg ramah kredit (kata lain dari big profit), sehingga begitu melihat catatan ini bank akan langsung berebut dan tertarik utk kasih pinjaman.
  4. Baru setelah itu saya bisa resign dari TDB dgn aman.

Ya... baru itu yg kepikiran sekarang ini... :)

Tapi saya yakin jalannya tidak harus seperti itu, pasti ada banyak faktor lain yg sesuai untuk kondisi masing2 orang.

Wednesday, March 14, 2007

It Always Between You and God

Orang kerap kali tak bernalar, tak logis dan egois
Biar begitu, maafkanlah mereka

Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif egois
Biar begitu, tetaplah bersikap baik

Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu
Biar begitu, tetaplah jujur dan berterus terang

Bila engkau sukses, mungkin engkau akan mendapat teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati
Biar begitu, tetaplah meraih sukses.

Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin akan dihancurkan seseorang dalam semalam
Biar begitu, tetaplah membangun

Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri hati dan dengki
Biar begitu, tetaplah berbahagia dan temukan kedamaian hati

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin akan dilupakan orang keesokan harinya
Biar begitu, tetaplah lakukan kebaikan

Berikan pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup
Biar begitu, tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik

Ketahuilah pada akhirnya,
Sesungguhnya ini semua adalah masalah antara engkau dan Tuhan
tidak pernah masalah antara engkau dan mereka


* Mother Theresa - dari emailnya pak Hasan Basri [hasan.basri@siemens.com]

Monday, February 26, 2007

Bisnis Properti

Dulunya saya beli rumah hanya karena ingin segera punya rumah sendiri dan tidak pindah2 rumah, repot soalnya.

Rumah yg pertama kali saya beli ada di cibubur th 1992. Tipe 45/120. Total DP 11 juta, kredit sekitar 12 juta, saya cicil 400rban /bln selama 5 thn. Sempat beberapa tahun saya diamkan, tidak saya pakai, tidak juga disewakan. Sampai kemudian sekitar th 94 disewakan, awalnya bayar tahunan, belakangan bayar bulanan. Saat ini disewa 600rb / bln, masih oleh penyewa yg lama. Berarti sekarang returnnya 20,6% / thn. Tapi... rumah ini mo digusur.. kena proyek tol depok - jagorawi.

Rumah yg kedua saya beli di cilengsi, tipe 36/100, patungan dengan mantan pacar th 1993. Total DP dan cicilan 10 th 32 jt + biaya renovasi 25 jt jadi total jendral 57 jt. Tapi yg ini tidak disewakan, tapi digunakan untuk keperluan keluarga. Tapi kalo di sewakan, saya yakin minimal 800rb / bln. Ini 16,8% / thn.

Rumah ketiga, di seputaran cibubur juga, tipe 82/196, saya peroleh th 1994, ini yang saya tinggali sampai sekarang.

Rumah keempat saya beli th 1999, dekat lokasi rumah kedua di cilengsi, tipe 36/72. Saya beli over kredit murah, lunas th 2002, krn pemilik lamanya tinggal jauh dan sdh tidak terlalu mengurus. Setelah renovasi, total yg saya keluarkan untuk rumah ini 49,9 jt. Saat ini saya sewakan 600rb / bln. Itu berarti 14,4% / thn.

Rumah kelima saya beli di cikarang, tipe 36/120, tahun 2002. Karena ada di dekat wilayah industri, rumah ini saya jadikan tempat kost, dapat 20 kamar. Total biayanya 249jt. Bersihnya tiap bulan saya dapat -average- 2,5 jt. 12% setahun.

Rumah keenam, di cikarang juga, tipe 36/93, tahun 2004. Sampai saat ini, feb 2007, total cash yg sdh saya bayar 45,8jt. Cicilan bulanan masih harus saya bayar sebesar 1jt / bln selama 13 thn lagi. Sekarang disewakan 400rb/bln. Jadi selama 13 th kedepan saya tinggal cicil 600rb setiap bulan. Masih tekor. Utk yg ini, saya sdg usahakan utk refinancing, lagi cari2 kredit murah nih.

Kalo diperhatikan, ternyata investasi properti makin lama makin memberikan return yg menarik, paling tidak masih diatas bunga bank. Karena ada kenaikan biaya sewa dan penurunan cicilan (utang lama ditukar dg utang baru yg bunganya lebih murah). Sementara maintenance juga ga terlalu ribet. Paling tiap bulan nagihin, tapi enak juga sih.

Memang awalnya perlu duit banyak. Tapi kan ga harus dari kantong sendiri. Paling kita cuma bayarin 15-20% dari harga rumah. Yg 80% dibayarin bank.

Tapi kan mesti nyicil?

Ya iyalah... tapi kan dibantu dibayarin orang lain, maksudnya penyewa. Jadi agak ringan. Soalnya kita bayar cicilan ya dari gaji. Tentunya dengan pengorbanan menekan pengeluaran di tempat lain. Masih ada yg belanjanya 23 rb / hari utk makan 5 orang? Saya masih... :)

Belum dari capital gain. Di jabotabek, harga rumah dan tanah mana ada sih yg turun. Dulu sih saya pikir, kalo kita mo nikmatin keuntungan dari kenaikan harga ini, propertinya mesti dijual dulu.

Eh ternyata ga begitu.

Saya lagi baca2 buku Real Estate Richnya Dolf de Roos, blm tamat sih. Ternyata ga perlu jual rumah utk nikmatin hasilnya. Intinya rumah bisa diagunkan ke bank, trus duitnya kita puterin lagi utk usaha yg lain. Sederhana tapi kompleks.

Kalo soal ini, saya jadi ingat pak Budi Rachmat, yg sukses meleverage apartmentnya utk buka usaha alfamart.

Sebetulnya target saya 100 kamar saat usia 40 th. Tapi sekarang udah 38 th, masih kurang 70 kamar lagi, masih keburu ga ya? Soalnya untuk yg 30 kamar saja, saya dan istri benar2 mengupayakan dg susah payah selama 17 thn. Dengan 100 kamar @300rb, passive incomenya kan lumayan buat pensiun.

Utk mempercepat dream ini, karena tidak mungkin mengandalkan gaji saja, saya dan istri coba buka usaha yg lain, dagang. Ternyata memang perputaran uang lebih cepat, tapi benar2 menguras tenaga pada awalnya. Dan butuh konsistensi dalam menjalankan usaha baru ini.

Orang jawa bilang, jer basuki mawa bea.

Friday, February 16, 2007

Dagang : barang ga laku, diretur?

Selama 6 bulan kita buka toko, banyak calon sub agen baru yg tanya, barangnya bisa diretur ga?

Saya mengerti bahwa kekhawatiran utama dari calon sub agen baru adalah kalo barang tidak laku. Berarti uang ga muter, stok numpuk, profit jadi berkurang. Di satu sisi ini betul.

Tapi dari pengalaman saya, pembeli lebih suka datang ke toko yg barangnya komplet.

Kita jual barang, biasanya ga semua laku, pasti ada barang yg fast moving, average dan slow moving. Biasanya mengikuti hukum pareto. Di toko saya, ada 20% item barang yg fast moving yg menyumbang sekitar sekitar 50% dari omzet. Lalu 60% item average. Dan 20% sisanya slow moving.

Pada awalnya saya juga ga tau, item mana yg fast moving, mana yg slow moving. Jalan satu2nya adalah bertanya pada penjual, dg harapan penjual berkata jujur. Walaupun demikian, karena kondisi yg berbeda, bisa saja laku di toko penjual, blm tentu laku di toko saya, demikian sebaliknya. Jadi, selain referensi penjual, judgement kita juga penting.

Jadi, dari pembelian pertama, biasanya ada aja beberapa item yg masuk kategori slow moving.

Tapi dari data sales, kita bisa tau item mana yg laku. Nah ini kita pakai untuk order pembelian berikutnya.

Sementara item yg tidak laku mau diapakan?

Seperti tadi saya tulis, pembeli cenderung datang ke toko yg itemnya komplet, semua model ada, semua warna ada, semua ukuran ada, pembeli maunya seperti itu, biar milihnya puas.

Jadi, item yg tidak laku tidak saya retur, tapi saya biarkan terdisplay di toko, sehingga kesannya semua barang ada di toko.

Toh item tsb bukannya sama sekali ga laku, yg beli tetap ada, hanya saja frekwensinya jarang.

Jadi, yg penting utk barang slow moving, saya jaga stoknya agar tidak berlebihan, sementara item yg fast moving, dijaga jangan sampai kehabisan...

Kalau tetap ga laku juga bagaimana?
Kebetulan saya ada 3 toko, saya rotasi saja, mungkin selera pembeli di toko yg lain berbeda.

Masih ga laku juga,
Kalo lagi butuh modal cepat, ya jual discount aja, asal modal balik. Terutama kalo saya beli di tempat yg jauh, dimana utk me-retur barang butuh biaya kirim atau biaya transport yg lumayan.

Masih ga laku juga,
Ya nasiblah.. anggap aja itu biaya utk mempercantik toko, makanya stoknya di tekan seminimal mungkin.

Gampang kan? Tapi prakteknya sulit, hehehe....

Thursday, February 8, 2007

Keikhlasan Hati Orang Kecil

Hari Senin pagi 5 Februari 2007, perjalanan dari Lebak Bulus ke kawasan Blok M relatif lebih lancar daripada biasanya. Mungkin karena sebagian orang masih mendapat kesulitan untuk keluar rumah menuju kantor, akibat banjir besar yang melanda Jakarta sejak hari Kamis yang lalu.

Biasanya, saya berangkat dari rumah ke kantor melalui jalan Tebah, dibelakang Pasar Mayestik lalu masuk ke jl Bumi dan Jalan Kerinci lalu keluar di Jalan Pakubuwono VI. Namun pagi ini, saya sengaja melintasi jalan Pati Unus untuk berbelok ke arah Jl. Paukubuwono VI karena ingin membeli pisang terlebih dahulu.

Di depan rumah makan Warung Daun ada penjaja pisang barangan. Di situlah saya biasa membeli pisang setiap minggu. Perempuan penjajanya sudah tahu bahwa saya akan membeli 3 sisir pisang. Satu sisir matang dan 2 sisir lainnya mengkal atau terkadang masih kehijauan. begitu juga rencananya pagi ini. Saat saya menghentikan mobil, dengan sigap dia memilih-milih pisang dan menyodorkannya kepada saya. Saya mengeluarkan uang selembar 50 ribu. Itulah lembaran yang ada di dalam dompet di samping beberapa lebar ribuan di dalam kotak uang untuk pembayar ongkos parker, yang tak cukup untuk membayar 3 sisir pisang. Agak ragu perempuan itu menatap saya ;

"Ibu . apa bisa diberikan uang pas saja?" tanyanya.

Saya melihat isi dompet dan tas... ternyata sama sekali tidak ada. Maklum awal bulan begini, isi dompet sedang sekarat. Kosong setelah digunakan kewajiban rutin, dari belanja bulanan, membayar gaji pembantu sampai dengan uang sekolah anak.

"Aduh maaf ... nggak ada uang pas...!"

"Saya tukar di warung dulu ya bu..." pintanya, meminta kesediaan saya menunggu. Saya melirik di sekitar jalan raya tersebut. Tidak ada warung sama sekali. Tentu saya harus menunggunya agak lama, sampai dia kembali dengan uang tukarannya. Dan saya merasa enggan menunggunya. Apalagi jalanPakubuwono VI di pagi hari cukup ramai.

"Kalau nggak ada kembalinya, saya ambil dua sisir saja ya ... saya punya uang kecil untuk itu...", usul saya menutupi keengganan menunggunya mencari tukaran uang. Cepat saya hitung uang receh di mobil yang terdiri dari uangkertas dan koin. Semuanya berjumlah enam belas ribu. Masih kurang dua ribu.

"Nah... lihat deh, uang saya nggak cukup. Saya ambil dua sisir saja ya..."

"Jangan bu .... , ambil saja semuanya. Ibu kan besok lewat lagi, jadi besok saja bayar kekurangannya! " begitu katanya, seraya mengembalikan lembar uang 50 ribu kepada saya.

"Aduh ... saya belum tentu lewat sini lagi lho besok. Jadi biar saya ambil 2 sisir saja. Saya bisa mampir kapan-kapan kesini."

"Nggak apa-apa bu ... kapan ibu lewat saja, bayarnya.... ..", sahutnya.

Saya mengambil lembaran uang tersebut dan segera berlalu darinya. Dibelakang sudah banyak mobil menunggu.

Tiba di kantor, sambil menunggu komputer menyala baru saya sadari, betapa lugu dan naifnya penjaja pisang itu. Dia rela mengambil resiko "kehilangan"keuntungan sebesar dua ribu rupiah. Bayangkan seandainya saya tidak lagi lewat tempatnya berjualan. Dua ribu memang kecil nilainya dibandingkan dengan pengembalian uang sebesar 32 ribu yang harus diberikannya kepadasaya. Tetapi saya yakin, uang dua ribu itu begitu besar artinya bagi seorang penjaja pisang di pinggir jalan. Toh dia rela dan ikhlas "kehilangan"sementara uang tersebut dan begitu mempercayai saya, perempuan yang kebetulan secara rutin membeli dagangannya. Sementara saya, tidak ikhlas menunggunya menukarkan uang atau bersikap seperti yang dilakukannya Apalah susahnya mengatakan ....

"Ambil saja dulu uang itu. Besok saya lewat lagi dan kembalikan saja uang saya, besok"

Ternyata saya sama sekali tidak memiliki keikhlasan dan kepercayaan kepadanya seperti apa yang diperlihatkannya kepada saya. Malu rasanya menyadari hal itu. Padahal dulu, sebelum pindah ke Lebak Bulus, saya selalu mempercayai penjaja sayur yang biasa datang ke rumah atau pembantu rumah.Setiap hari, saya selalu meletakkan uang di kotak yang tersimpan di atas lemari es, untuk belanja sehari-hari, yaitu sayuran dan bumbu dapur sertaongkos transport Muslimin ke sekolah. Tanpa sekalipun meminta rincian pengeluaran. Saya mempercayai mereka sepenuhnya. Kalau pembantu mengadu bahwa Muslimin mengambil uang lebih dari jatahnya, saya dengan enteng berkata :

"Biar saja... uang itu tidak akan membuat Muslimin menjadi kaya raya mendadak atau saya menjadi jatuh miskin. Yang pasti, orang yang mengambilnya tidak akan mendapat berkah Allah SWT"

Sekarang, saat tinggal di Lebak Bulus, saya menitipkan uang belanja sayuran kepada ibu saya. Entah bagaimana beliau mengurusnya. Saya tidak lagi menaruh uang di atas kulkas untuk belanja. Mungkinkah karena hal kecil itu sayamenjadi kehilangan sensitifitas untuk mempercayai orang kecil? Astaghfirullah ... betapa picik dan sombongnya saya.... Ampun Tuhan.....Sungguh saya menyesal hari ini... saya sudah terjerat pada fenomena lowtrust society .... tidak memberikan kepercayaan kepada lingkungan sekitar. Selalu memandang curiga kepada orang lain.

Besok saya harus lewat dan membayar kekurangan uang itu. Dua ribu yang relatif tidak bernilai buat saya, tapi betul-betul sudah membuat martabat saya "terjerembab" ke dasar jurang... Sungguh saya malu... selama ini saya selalu berpegang teguh untuk selalu menjaga martabat diri. Selalu berusaha untuk tidak berlaku dzalim atau mencurangi orang lain. Ternyata apa yang saya lakukan masih sebatas artificial yang dengan sangat mudah dipatahkan oleh perempuan sederhana itu....

Kalaupun esok[1] saya ikhlas memberikan uang lebih besar daripada uang yang harus saya kembalikan, tetapi saya merasa yakin bahwa keikhlasan itu tidak lagi bernilai dimata Allah SWT. Saya sudah kehilangan momentum yang baik untuk meraih "nilai positif" di mata Allah SWT. Pada hari ini, saya sudah menampik kesempatan untuk meraih pahala dan berkah Allah. Sungguh, kesempatan itu selalu datang dalam bentuk dan pada waktu yang sama sekali tak terduga.

Ampuni saya ya Allah.... Jadikan hal tersebut yang pertama dan terakhir. Sungguh, berikan saya kesempatan untuk selalu menjadi golongan orang-orang yang senantiasa rendah hati dan ikhlas serta dijauhkan dari kesombongan. Amien....!

Lebak bulus 5 februari 2007 jam 22.30
_____

[1] Hari ini, selasa, saya lewat Jl Pakubuwono dan berniat melunasi hutang saya. Seperti yang saya takuti sejak semalam, perempuan penjaja pisang itu tak terlihat. Dia tidak menggelar dagangannya. Duh . Itulah akibat dari"menampik kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT untuk memperoleh pahala dan berkah.


Harlina Alwi
lina.alwi@gmail.com
http://shaphira.multiply.com

Thursday, January 18, 2007

A Forever Friend
.
.
.
Sometimes in life
you find a special friend
Someone who changes your life
just by being part of it

Someone who makes you laugh
until you can't stop
Someone who makes you believe
that there really is good in the world
Someone who convinces you
that there really is an unlocked door
just waiting for you to open it
This is Forever Friendship

When you're down
and the world seems dark and empty
Your forever friend lifts you up in spirit
and makes that dark and empty world
suddenly seem bright and full

Your forever friend gets you through
the hard times, the sad times
and the confused times
If you turn and walk away
your forever friend follows
If you lose your way
your forever friend guides you
and cheers you on

Your forever friend holds your hand
and tells you that
everything is going to be okay
And if you find such a friend
you feel happy and complete
because you need not worry
You have a forever friend for life
and forever has no end...........
.
.
.
Feeling a little bit romantic now? ;)
Buat yg butuh, silahkan lho kalo mau di copy paste trus dikemas lagi dalam bentuk yg lebih cantik utk diberikan kepada suami, ke istri, ke pacar, ke calon pacar.
Kalo pake poem ini dijamin sukseslah....
.

Tuesday, January 2, 2007

Wawancara di Republika 1

Masuk koran lagi euy... :)
Setelah pensiun dari model dadakan untuk produk barcode printer TEC 14 th yg lalu (sempat tayang di Kompas, Jawa Pos, Pikiran Rakyat dan Tempo), sabtu tgl 23 des 2006 kemarin muncul lagi di Republika, makasih ya mas Iman...

Artikel ini dikutip dari :
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=276641&kat_id=458


Memilih Tangan di Atas

Ini komunitas yang solid. para wirausahawan ini membentuk komunitas Tangan di Atas TDA). Ajang komunikasi menggunakan milis. Semua persoalan bisnis dibahas, lalu dicarikan solusinya. Solusi yang ditawarkan seringkali bukan berupa wacana, tetapi action nyata. Pelatihan membuat webstore (toko di internet), masalah akuntansi, dan lainnya, pun digelar untuk peserta milis. Hasilnya? Komunitas milis ini mampu mencetak enterpreneur-enterpreneur baru dalam waktu sekejap.

Tak keliru Ryaad Kusuma merapat ke TDA. Dari komunitas inilah Ryaad menemukan bisnis online-nya. Suatu saat Ryaad Kusuma membaca e-mail Hadi Kuntoro di milis TDA soal usaha jilbabnya di Bekasi. Ia tertarik. ''Omzetnya luar biasa,'' kata dia beralasan. Tak lama, ia sudah meluncur ke toko jilbab Rabbani milik Hadi. Pada pertengahan Juli 2006, dengan modal Rp 3 juta, Ryaad pun sudah memulai usaha baru. Barangnya diperoleh dari agen Rabbani di Bekasi. Jalur distribusi pun ia peroleh lewat sharing informasi di milis.

Saat ini Ryaad sudah punya sebuah kios busana muslimah di bilangan Plaza Cibubur, Cibubur. Pada November lalu, ia mulai berjualan via internet. Pelanggannya tersebar di Bontang, Kaltim, hingga Sumbawa, NTB. Besar omzet? ''Lumayan. Saat Lebaran, apalagi,'' tutur Ryaad yang pegawai swasta di kawasan industri Cikarang itu.

Lewat milis, mereka bahu-membahu. Sesuai namanya --tangan di atas-- komunitas ini memiliki visi: gemar memberi kepada sesamanya. Lewat komunitas ini, para pengusaha yang lebih mapan memberi solusi kepada para pemula atau yang belum berpengalaman sekali.
''Kita ingin menciptakan pengusaha-pengusaha baru. Menumbuhkan semangat berwirausaha adalah solusi konkret permasalahan ekonomi bangsa,'' kata Badroni Yuzirman. Karenanya, istilah TDA seringkali dipelesetkan menjadi Take Double Action. TDA menghindari banyak diskusi dan perdebatan yang tidak produktif. Solusi, kata dia. harus dengan aksi nyata.

Anria semula mengaku bingung mencari jenis bisnis. Lewat milis TDA, ia mulai terbuka mata. Sempat bingung cari-cari barang, Anria memperolehnya berkat cawe-cawe di internet ini. Bukan cuma peluang dan relasi bisnis, Anria juga memperoleh pasokan motivasi dari tulisan-tulisan di milis.

''Kita menumbuhkan suasana saling mendukung. Dengan bersama-sama segalanya akan lebih ringan,'' kata Badroni. ''Dengan sharing di internet mengenai problem kita, kita seringkali disadarkan bahwa bukan kita saja yang dilanda problem tersebut. Ada orang lain. Ini akan menguatkan kita. Apalagi kalau kita cari solusinya bersama-sama.'' tambah Ryaad. imy

Wawancara di Republika 2

Artikel ini dikutip dari :
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=276642&kat_id=458


Berbisnis Lewat Internet
Bertukar pikiran lewat internet, mereka membangun bisnis di rumah.

Nama saya Roni. Sejak Maret 2004 saya dan istri memutuskan memulai bisnis menggunakan internet dan direct marketing dari rumah. Alasannya, Jakarta macet, banyak waktu terbuang, dan saya memang malas untuk bekerja keras...

Kalimat terakhir ini memang terasa 'provokatif'. Kalimat-kalimat tadi dicuplik dari blog pribadi Badrony Yuzirman --catatan hariannya di internet. Roni kini memang sudah tak perlu bekerja keras. Lihat saja. Di usia ke-33, ia sudah memiliki banyak waktu senggang. Ia belum benar-benar pensiun memang. Tapi, setidaknya Roni bisa melakoni hobinya kapan saja ia mau: membaca, menggambar, menulis, dan mendengarkan musik.

Bagaimana bisa? Roni bukan pegawai negeri atau karyawan swasta yang mesti ngabsensi pukul delapan pagi. Ia pengusaha. Bisnisnya jualan busana muslim. Tapi, ia tidak seperti pengusaha busana kebanyakan: duduk di toko menunggui pembeli, dari pagi hingga sore.

Roni cukup duduk di depan komputer di rumahnya. Ia mengelola toko busana on-line. Order dilakukan via e-mail. Dengan cara ini, kata Roni kepada Republika, ''Saya bisa bisnis sambil santai. Tinggal kirim barang ke pelanggan.'' Ia tertawa kecil. Pelanggan Manet Plus --nama perusahaannya-- datang dari beragam kota. Dari Riau, Balikpapan, Banjarmasin, hingga Bali.

Bisnis on-line-nya lumayan berkembang. Saat ini Roni memiliki sepuluh pegawai dengan empat unit komputer PC. Padahal, cerita dia, dahulu ia memulai binis dari garasi rumah, bermodalkan satu unit komputer saja. Omzet per hari saat ini? ''Ya lumayan lah,'' tutur Roni yang perusahaannya tahun ini meraih predikat 'Enterprise 50' versi majalah SWA.

Berbisnis on-line membuatnya banyak waktu luang. Sementara, waktu luang membikin Roni lebih jernih berpikir. Tak syak lagi, Roni membenci rutinitas dan pressure. Dua hal ini, menurut dia, membuat potensinya tidak berkembang. Ia lebih suka memiliki banyak waktu untuk berpikir, mencari peluang, dan membuat planning. Ini, kata Roni, hanya bisa diperoleh dengan menjadi pengusaha.

Simak curhat Roni pada sebuah situs. Hari ini kita mau kemana, ya? Pertanyaan itu kerap saya ajukan mengingat saya memang lagi enggak ada kerjaan. Soalnya semua perencanaan dan persiapan bisnis sudah dilakukan jauh-jauh hari. Sekarang tinggal eksekusi atau pelaksanaan yang tidak perlu kami harus hadir setiap waktu. Paling-paling cuma kontrol aja.

Maka, Roni pun mulai mem-'provokasi' orang-orang. Di blog-nya, ia mendorong pembacanya untuk menjadi pengusaha. Ia kerap mengutip ucapan-ucapan Robert T Kiyosaki, pengarang buku laris Rich Dad, Poor Dad. Termasuk celoteh pengusaha agrobisnis Bob Sadino: saya tidak suka bekerja dalam tekanan, Makanya saya memilih jadi entrepreneur!

Suatu ketika Roni berjumpa seorang pengusaha muslim, Haji Ali. Dari sosok ini, Roni diyakinkan bahwa berwira usaha --memperkuat basis ekonomi-- adalah pilihan tepat. Sebab, mengacu hadis Nabi, ''Tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah,'' kata Roni.

Banyak yang terprovokasi tulisan-tulisan Roni di blog pribadinya. Para pembaca setia blog ini kemudian sepakat membuat acara talk show dengan menghadirkan Haji Ali, tokoh sukses yang sering diceritakan pada blog Roni. Dari 40 orang yang hadir, beberapa di antaranya telah aktif berbisnis.

Mereka saling bertukar pikiran melihat peluang bisnis. Mereka pun memperluas 'pergaulan' lewat mailing list (milis). Suatu kali Roni memperoleh peluang bisnis. Ada tawaran sewa gratis 20 kios di sebuah mal di Jakarta Utara. Lewat millis, Roni pun cawe-cawe. ''Siapa berani ambil? Siapa mau jadi pengusaha?,'' cerita dia. Banyak yang langsung menggaet kios ini --menjadi pengusaha.

Iseng-iseng browsing di internet, Ryaad Kusuma (37 tahun) termasuk yang kaget menyimak adanya tawaran kios gratis di daerah elite. ''Kok enak banget ya,'' pikir Ryaad yang tak sempat kebagian kios-kios tadi. Setidaknya, inilah momen yang membuat Ryaad belajar bisnis bersama Roni dan kawan-kawan.

Ryaad pun menemukan bisnis baru: dagang busana muslimah. Sudah sejak lama memang Ryaad ingin kembali berbisnis. Usaha angkotnya pada 1995 kandas gara-gara krisis moneter. Belakangan, usaha jual software SMS murah pun luput. ''Cuma, waktu itu saya bingung mau dagang apa?'' tuturnya.

Anria Prisatiani (24 tahun) termasuk yang yang beruntung setelah ikut milis yang dikelola Roni. Sebelumnya ia ikut sebuah milis tentang menjadi pengusaha, yakni milis kuadran empat. Hanya saja isi milis lebih didominasi wacana-wacana semata, bukan solusi nyata.

Berawal dari sharing informasi di milis, saat ini Anria telah memiliki sebuah toko on-line, yakni etalase.net, yang juga menjual busana muslim berikut pernak-perniknya. Penjualan produk-produk toko on-line-nya, terang Anria, bahkan sudah mencapai Malaysia. n imy